REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Enik Ermawati menilai profil wisatawan muslim global mengalami pergeseran signifikan. Perubahan tersebut ditandai dengan meningkatnya jumlah solo traveler dan wisatawan perempuan.
Wamenpar memandang tren tersebut sejalan dengan perubahan struktur demografi muslim dunia yang kini didominasi generasi muda. Wisatawan muslim tidak lagi sekadar mencari liburan, melainkan pengalaman perjalanan yang selaras dengan nilai keimanan, refleksi diri, serta keberlanjutan destinasi.
“Tren utama perjalanan wisata menunjukkan pergeseran menuju perjalanan yang lebih mandiri dan berkesadaran. Semakin banyak wisatawan muslim, termasuk solo traveler dan perempuan, melakukan perjalanan untuk mencari experience, rasa aman, dan ruang untuk berkembang,” kata Ni Luh Puspa, sapaan akrabnya, dalam acara Kadin Indonesia di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Ia menjelaskan perubahan karakter wisatawan muslim turut dipengaruhi kekuatan demografi global. Pada 2025, populasi muslim dunia diproyeksikan mencapai 2,19 miliar jiwa atau sekitar 26 persen dari populasi global, dengan sekitar 70 persen berusia di bawah 40 tahun. Dari sisi geografis, lebih dari dua pertiga populasi muslim berada di kawasan Asia, menjadikannya pasar strategis bagi pengembangan pariwisata regional.
Dalam konteks tersebut, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong pengembangan pariwisata ramah muslim sebagai bagian dari pariwisata inklusif nasional. Pendekatan ini ditempatkan untuk memperkuat standar layanan destinasi agar lebih responsif terhadap kebutuhan wisatawan muslim tanpa mengubah karakter dan jati diri daerah.
“Layanan ramah muslim tidak mengubah local wisdom destinasi. Fokusnya meningkatkan standar layanan agar wisatawan muslim merasa aman dan nyaman tanpa menghilangkan budaya serta identitas lokal,” ujar Ni Luh.
Ia menambahkan penguatan pariwisata ramah muslim juga sejalan dengan arah kebijakan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan. Kemenpar menempatkan kualitas layanan, dampak ekonomi, serta pemerataan manfaat sebagai tujuan utama pembangunan pariwisata, bukan semata mengejar jumlah kunjungan atau devisa.
Potensi pasar wisatawan muslim global dinilai sangat besar. Global Muslim Travel Index memproyeksikan jumlah wisatawan muslim mencapai 186 juta orang pada 2025 dan meningkat menjadi 245 juta orang pada 2030, dengan total belanja diperkirakan menembus 235 miliar dolar AS. Indonesia, dengan kontribusi sekitar 11,3 persen populasi muslim dunia serta ekosistem destinasi yang luas, dinilai memiliki modal kuat untuk merebut peluang tersebut.
.png)
2 hours ago
1













































