Perempuan Kulit Hitam Cenderung Alami Perimenopause Lebih Awal

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Seorang dokter dengan akses layanan kesehatan terbaik sekalipun ternyata bisa luput mengenali kondisi perimenopause yang dialaminya. Hal ini dialami Kudzai Dombo, seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan, yang baru menyadari kondisinya pada usia 48 tahun.

Dombo, dikutip dari USA Today, Selasa (5/5/2026), mengaku sempat mengalami kelelahan ekstrem, sulit tidur, mudah marah, hingga mata kering. Ia mencoba berbagai cara seperti mengonsumsi kunyit, melatonin, hingga magnesium, bahkan berkonsultasi dengan psikiater dan mendatangi unit gawat darurat.

Awalnya, ia mengira gejala tersebut disebabkan oleh jadwal kerja panjang sebagai dokter. Namun, kondisi itu ternyata merupakan perimenopause, yaitu masa transisi sebelum menopause ketika perempuan masih mengalami menstruasi tetapi mulai merasakan berbagai gejala fisik dan emosional. “Saya bahkan tidak menyadari ini terjadi pada diri saya sendiri,” ujar Dombo.

Perimenopause dapat berlangsung selama beberapa tahun sebelum menopause, dengan gejala seperti kelelahan, nyeri sendi, hingga perubahan suasana hati. Penelitian menunjukkan perempuan kulit hitam cenderung mengalami perimenopause lebih awal, berlangsung lebih lama, dan dengan gejala yang lebih berat dibanding perempuan kulit putih. Namun, mereka jauh lebih jarang mendapatkan terapi hormon.

Data dari Journal of the American Medical Association menyebutkan hanya sekitar 1 persen perempuan kulit hitam yang menjalani terapi hormon, dibandingkan sekitar 5 persen perempuan secara umum.

Padahal, gejala yang tidak ditangani tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berisiko bagi kesehatan.

Studi tahun 2021 menunjukkan hot flashes yang tidak tertangani dapat meningkatkan risiko gangguan jantung, termasuk stroke dan serangan jantung. “Perempuan kulit hitam seringkali tertinggal dalam akses perawatan,” kata Dombo, yang kini menjabat sebagai direktur advokasi di Alloy, perusahaan layanan kesehatan berbasis telemedisin untuk perempuan.

Menurut dokter spesialis kebidanan dan kandungan Sharon Malone, rata-rata perempuan kulit hitam mengalami menopause dua tahun lebih awal dibanding perempuan kulit putih, berdasarkan studi Study of Women’s Health Across the Nation. Kondisi ini membuat banyak dokter kerap tidak menyadari bahwa pasien telah memasuki fase perimenopause.

Akibatnya, keluhan pasien sering diabaikan atau dianggap sebagai stres semata. “Mereka sering mendengar, ‘itu hanya stres’ atau ‘itu karena berat badan’,” ujar Dombo.

Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, berbagai inisiatif dilakukan, termasuk edukasi melalui komunitas dan layanan telemedisin. Dombo bahkan aktif memberikan penyuluhan langsung di komunitas, termasuk di gereja, guna meningkatkan kesadaran perempuan tentang menopause.

Menurut para ahli, kesenjangan layanan kesehatan, diskriminasi, serta faktor ekonomi turut memengaruhi pengalaman menopause perempuan kulit hitam. Selain itu, kekhawatiran terhadap risiko terapi hormon yang sempat dikaitkan dengan kanker payudara dan penyakit jantung juga membuat sebagian perempuan enggan menjalani pengobatan, meskipun informasi tersebut kini telah diperbarui.

Meski demikian, para ahli menekankan pentingnya edukasi dan akses layanan kesehatan yang lebih baik agar perempuan dapat menjalani masa menopause dengan sehat. “Ada jalan ke depan. Perempuan harus berani berharap lebih terhadap kesehatan mereka,” ujar Malone.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |