Ilustrasi mengevakuasi korban banjir dengan perahu karet.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah kepungan air cokelat yang merendam Dusun Tegal Luhur, Desa Sukamakmur, Karawang, ketegangan memuncak saat Siti Nurjanah (22) harus berjuang melawan rasa sakit yang hebat. Di usia kehamilan yang sudah mencapai puncaknya, ia terjebak di tengah kepungan banjir yang memutus akses jalan, sementara tanda-tanda persalinan mulai terasa.
Beruntung, Tim Baznas Tanggap Bencana (BTB) bergerak cepat menembus genangan menggunakan perahu karet, mengevakuasi calon ibu ini menuju rumah sakit demi memastikan nyawa ibu dan bayinya tertolong. Bagi warga Karawang, bencana ini bukan sekadar statistik genangan, melainkan ujian kemanusiaan yang mempertaruhkan nyawa di tengah dinginnya air yang tak kunjung surut.
Ibu hamil, lansia, dan anak-anak dikategorikan sebagai kelompok rentan dalam bencana karena keterbatasan fisik dan kebutuhan medis spesifik yang mereka miliki. Ibu hamil menghadapi risiko komplikasi kehamilan yang bisa dipicu oleh stres fisik dan mental saat evakuasi, sementara anak-anak memiliki sistem imun yang belum sempurna sehingga sangat rentan terhadap penyakit pascabanjir. Ketidakmampuan mereka untuk bergerak cepat secara mandiri di tengah arus air menjadikan mereka prioritas utama yang harus diselamatkan terlebih dahulu guna mencegah korban jiwa.
Selain itu, kelompok ini juga memiliki kerentanan psikologis yang lebih tinggi terhadap trauma akibat bencana. Lansia sering kali mengalami disorientasi dan penurunan kondisi kesehatan yang drastis ketika harus berpindah dari lingkungan tempat tinggal mereka yang nyaman ke posko pengungsian yang darurat. Tanpa pengawasan khusus dan lingkungan yang memadai, kelompok rentan ini akan menjadi pihak yang paling menderita akibat hilangnya akses terhadap air bersih, makanan bergizi, dan obat-obatan yang mereka butuhkan secara rutin.
Bencana yang melanda Karawang beberapa hari terakhir ini dipicu oleh curah hujan ekstrem yang turun dengan intensitas tinggi tanpa henti. Ketika volume air hujan melebihi kapasitas resapan tanah dan daya tampung drainase, air mulai meluap dari sungai-sungai besar yang melintasi pemukiman warga. Kondisi ini diperparah oleh berkurangnya daerah resapan air di kawasan industri dan pemukiman, sehingga air tidak memiliki jalan keluar selain merendam rumah-rumah penduduk dan memutus urat nadi ekonomi warga.
Dampak dari curah hujan yang masif ini tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa melalui potensi banjir susulan yang sulit diprediksi. Tanah yang sudah jenuh air tidak mampu lagi menyerap tumpahan hujan berikutnya, sehingga setiap tetes hujan yang jatuh saat ini langsung menambah tinggi muka air di lapangan.
Oleh karena itu, kesiapsiagaan tim seperti BTB dan kewaspadaan masyarakat terhadap cuaca ekstrem menjadi kunci utama dalam memitigasi dampak yang lebih luas, agar duka akibat banjir ini tidak melahirkan kemiskinan baru di tengah masyarakat yang sedang berjuang pulih.
.png)
1 month ago
22
















































