Penularan Campak Bisa Terjadi tanpa Disadari, Ini Penjelasan Dokter

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menyentuh bayi maupun anak-anak pada musim libur Lebaran. Imbauan ini disampaikan sebagai upaya mencegah penularan campak yang saat ini masih banyak ditemukan.

Merujuk data Kemenkes, hingga pekan ke-8 tahun 2026, tercatat 10.453 suspek campak dengan 8.372 kasus dan enam kematian. Selain itu, terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.

Merespons hal ini, dokter spesialis penyakit dalam dr Kasim Rasjidi menyatakan bahwa infeksi campak memang perlu jadi perhatian. Terlebih, gejala awal campak sering kali sulit dikenali karena mirip dengan penyakit lain.

"Gejala awalnya mungkin sangat mirip dengan bapil (batuk pilek-Redaksi), DBD atau cacar air. Jadi sering kali tak dikenali di awal. Perbedaan gejala biasanya baru terlihat jelas ketika ruam khas campak mulai muncul di kulit," kata dr Kasim saat dihubungi Republika, Senin (9/3/2026).

Menurut dr Kasim, virus campak sangat mudah menular. Penularan bahkan bisa terjadi tanpa disadari, karena pasien yang masih di fase demam ringan dan belum menunjukkan ruam kulit sudah dapat menularkan virus kepada orang lain.

"Penularan campak bisa terjadi dari gejalanya mash demam ringan sampai ruam kulit mereda. Maka dari itu, anjuran Kemenkes sudah sangat baik, untuk mencegah risiko penularan," kata dr Kasim.

Dia mengatakan anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap campak karena sistem kekebalan tubuh mereka mash dalam tahap perkembangan. Risiko juga meningkat jika anak belum mendapatkan imunisasi campak secara optimal atau tiga kali.

Selain itu, penularan virus campak juga sangat cepat karena dapat menyebar melalui udara dalam bentuk droplet. Apabila anak terkena campak, kata dr Kasim, orang tua disarankan melakukan isolasi mandiri di rumah serta memastikan asupan cairan anak tetap tercukupi

"Orang tua juga perlu memantau kondisi anak, termasuk memperhatikan frekuensi buang air kecil sebagai indikator kecukupan cairan," kata dia.

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |