Pengembangan Blok Ganal Butuh Kesiapan Finansial dan Teknologi

1 week ago 24

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pengembangan Blok Ganal dinilai membuka peluang besar bagi peningkatan produksi migas nasional sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi daerah. Namun proyek laut dalam tersebut membutuhkan kesiapan finansial, teknologi, serta manajemen risiko yang matang agar keterlibatan berbagai pihak dapat berjalan optimal.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Muhammad Kholid Syeirazi mengatakan, Blok Ganal termasuk dalam proyek Indonesia Deepwater Development (IDD), yakni pengembangan migas laut dalam dengan kompleksitas teknis tinggi dan kebutuhan investasi besar.

Menurut Kholid, karakter proyek tersebut membuat skema participating interest (PI) perlu dipersiapkan secara cermat, terutama jika melibatkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

“Dalam praktiknya, BUMD akan kesulitan untuk menyediakan dana dengan nilai investasi yang sangat besar. Karena ini memang investasinya jumbo,” kata Kholid kepada wartawan, Senin (18/5/2026).

Kholid menjelaskan, dalam mekanisme PI, BUMD pada dasarnya tidak bertindak sebagai operator. Peran BUMD lebih pada penerimaan manfaat ekonomi melalui penyertaan ekuitas yang tetap membutuhkan dukungan pendanaan. “Tetapi, itu pun dalam praktiknya juga susah,” ujar Kholid.

Ia menilai tantangan tersebut bukan berarti menutup peluang keterlibatan daerah, melainkan menuntut skema pendampingan dan penguatan kapasitas agar manfaat ekonomi tetap dapat dirasakan tanpa membebani keuangan daerah.

“Ini proyek IDD yang capital intensive, high tech, begitu juga berisiko tinggi. Tentu saja investasinya juga besar, sehingga jadi masalah biasanya,” ujar Kholid.

Kholid menambahkan, regulasi sebenarnya telah mengatur mekanisme dukungan bagi BUMD penerima PI 10 persen melalui pendanaan awal oleh kontraktor hingga proyek mencapai titik pengembalian investasi atau pay off.

“Jadi nyicil, ditalangi dulu kemudian bagian BUMD dipotong. Sehingga biasanya tahun pertama sampai ke-6, sampai pay off baru dapat bagian. Jadi baru menikmati hasil setelah pay off,” ujar Kholid.

Melihat karakter proyek laut dalam yang padat modal, ia juga membuka ruang kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki kapasitas finansial lebih besar sehingga risiko dapat dikelola bersama. “Ini menimbang tingkat risiko teknis dan modal kegiatan hulu migas lepas pantai,” kata Kholid.

Menurut dia, peluang tersebut tetap bergantung pada kebijakan operator, yakni ENI dan Sinopec, apakah akan melepas sebagian kepemilikan interest melalui skema farm out.

“Jadi kalau misalnya ada share yang ingin dilepas, itu mungkin saja. Dan itu saya kira strategi terbaik. Jadi Pertamina sebagai BUMN tidak menanggung risiko eksplorasi,” kata Kholid.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyampaikan keinginan memperoleh hak pengelolaan melalui skema participating interest terkait temuan cadangan minyak dan gas besar di lepas pantai Blok Ganal.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kalimantan Timur Bambang Arwanto mengatakan pemerintah daerah akan mengajukan permohonan keterlibatan dalam pengelolaan cadangan migas tersebut meski lokasi sumur berada di luar batas kewenangan daerah.

Cadangan migas tersebut ditemukan di Sumur Geliga dan Sumur Gula di wilayah kerja Blok Ganal dengan potensi lebih dari tujuh triliun kaki kubik gas serta sekitar 375 juta barel minyak.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |