Pelatih kepala Mesir Hossam Hassan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelatih tim nasional Mesir Hossam Hassan melontarkan tudingan keras setelah timnya tersingkir secara dramatis dari Piala Dunia 2026 oleh Argentina. Hassan bahkan menuding FIFA menginginkan Lionel Messi dan Argentina tetap bertahan di turnamen demi kepentingan pemasaran.
Mesir sebenarnya berada di atas angin saat unggul 2-0 hingga memasuki 11 menit terakhir waktu normal dalam laga babak 16 besar di Stadion Atlanta, Selasa (7/7/2026). Namun, juara bertahan Argentina bangkit secara dramatis melalui gol Cristian Romero, Lionel Messi, dan Enzo Fernandez untuk membalikkan keadaan menjadi kemenangan 3-2.
Bagi banyak penonton netral, pertandingan tersebut menjadi salah satu laga paling dramatis di Piala Dunia 2026. Namun, selepas laga, kontroversi justru mencuat menyusul sejumlah keputusan wasit yang dipersoalkan kubu Mesir.
Seorang pakar VAR sebelumnya menilai Mohamed Salah seharusnya memperoleh hadiah penalti dalam proses yang berujung pada gol kemenangan Argentina pada menit ke-93. Selain itu, staf pelatih Mesir juga mempertanyakan sejumlah keputusan wasit sepanjang pertandingan.
Penyerang Mesir Mostafa Ziko bahkan mengungkapkan kekecewaannya terhadap kepemimpinan wasit. Ia menyebut turnamen telah "diatur" untuk menguntungkan Argentina, meski tidak secara langsung menyebut nama Messi.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Hassan menyampaikan tudingan yang lebih tajam. "Mereka ingin Argentina dan Messi tetap berada di Piala Dunia 2026 untuk tujuan pemasaran. Jika mereka ingin Argentina menang, mengapa mengundang tim lain untuk berpartisipasi? Pertandingan ini jelas dicurangi, dan seluruh dunia menyaksikannya," ujar Hassan.
Menurut dia, Mesir tampil lebih baik daripada Argentina dan seharusnya mendapatkan hadiah penalti. Hassan juga menilai gol Mostafa Ziko pada awal babak kedua yang dianulir seharusnya disahkan.
.png)
6 days ago
26













































