REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah kota besar di Indonesia masuk dalam daftar wilayah dengan jumlah hari panas dan lembap ekstrem tertinggi di dunia. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa kawasan perkotaan di Tanah Air semakin rentan terhadap dampak krisis iklim yang berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.
Laporan terbaru Climate Central bertajuk Global Analysis: Dangerous Humid Heat Rising Due to Climate Change mencatat sedikitnya 10 kota di Indonesia masuk dalam daftar 50 kota dunia dengan jumlah hari panas dan lembap ekstrem terbanyak selama periode 2016-2025. Tiga di antaranya bahkan menempati peringkat 10 besar, yakni Pekanbaru dengan 353 hari, Medan 342 hari, dan Surabaya 313 hari.
Selain ketiga kota tersebut, Jakarta, Tangerang Selatan, dan Tangerang juga mencatat angka yang tinggi. Ketiga wilayah itu mengalami 290 hari panas dan lembap ekstrem sepanjang 2016-2025, dengan 210 hari atau sekitar 72 persen di antaranya dipicu oleh perubahan iklim. Angka tersebut hanya berada di bawah Makassar yang mencatat 229 hari akibat krisis iklim dari total 287 hari panas-lembap ekstrem.
Climate Central menjelaskan kawasan tropis menjadi wilayah yang mengalami peningkatan hari panas dan lembap ekstrem paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi kenaikan suhu bumi akibat emisi gas rumah kaca yang membuat cuaca panas dan kelembapan tinggi semakin sering terjadi.
Manager Outreach dan Advokasi CERAH, Bondan Andriyanu, mengatakan temuan tersebut menjadi peringatan bahwa masyarakat perkotaan menghadapi risiko kesehatan yang semakin besar akibat panas ekstrem.
Menurut dia, ancaman tersebut tidak hanya berasal dari suhu yang semakin tinggi, tetapi juga diperparah oleh polusi udara yang masih menjadi persoalan di berbagai kota besar.
"Kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa risiko panas ekstrem sudah nyata dan sangat berpotensi mengancam keselamatan jiwa, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan. Di kota-kota besar seperti Jakarta, ancaman ini semakin besar karena masyarakat juga terpapar polusi udara," ujar Bondan.
Ia menilai pengurangan emisi dari penggunaan bahan bakar fosil perlu menjadi perhatian karena tidak hanya berkontribusi mengurangi laju perubahan iklim, tetapi juga melindungi kesehatan masyarakat di kawasan perkotaan.
Climate Central mendefinisikan hari panas dan lembap berbahaya sebagai kondisi ketika suhu bola basah (wet-bulb temperature) mencapai sedikitnya 25 derajat Celsius. Pada kondisi tersebut, kemampuan tubuh mendinginkan diri melalui penguapan keringat menurun sehingga meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, gangguan jantung dan pernapasan, hingga heat stroke.
.png)
2 hours ago
4

















































