REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peluang kerja bagi tenaga perawat Indonesia masih terbuka lebar, baik di dalam maupun luar negeri. Universitas Binawan mencatat sebanyak 93 persen alumninya memperoleh pekerjaan dalam waktu kurang dari enam bulan setelah lulus. Sebagian di antaranya bahkan telah berkarier di sejumlah negara, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Jepang, Austria, dan Australia.
Data tersebut disampaikan dalam Wisuda dan Angkat Sumpah ke-13 Universitas Binawan yang meluluskan 318 wisudawan di Auditorium Universitas Binawan, Jakarta. Dari jumlah tersebut, lebih dari 200 lulusan berasal dari Program Studi Sarjana Keperawatan Internasional dan Profesi Ners.
Wakil Rektor Bidang Tata Kelola, Sumber Daya, dan Kemitraan Strategis Universitas Binawan, Farouk Abdullah Alwyni, mengatakan tingginya tingkat penyerapan lulusan tidak terlepas dari upaya perguruan tinggi menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja.
"Universitas Binawan terus berkomitmen menghadirkan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat, sehingga lulusan memiliki bekal yang kuat untuk menghadapi tantangan masa depan," kata Farouk.
Selain tingginya tingkat penyerapan kerja, sebanyak 67 persen wisudawan juga berhasil meraih predikat cumlaude. Menurut Farouk, wisuda bukan sekadar penanda berakhirnya masa studi, tetapi juga menjadi awal pengabdian lulusan kepada masyarakat.
Ia berharap lulusan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga berintegritas, peka terhadap persoalan sosial, menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan sektor kesehatan.
Pelaksana Tugas Rektor Universitas Binawan, Prof Henny Suzana Mediani, mengatakan perubahan dunia kerja menuntut lulusan untuk terus meningkatkan kompetensi dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
"Kami berharap para lulusan mampu menjadi individu yang adaptif, profesional, dan terus belajar untuk menghadapi perubahan dunia yang semakin cepat," ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan, Cris Kuntadi, mengatakan transformasi teknologi, digitalisasi, dan dinamika ekonomi global telah mengubah kebutuhan dunia kerja. Karena itu, lulusan perguruan tinggi dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, mudah beradaptasi, dan terus mengembangkan kompetensinya.
"Kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, dan terus mengembangkan kompetensi menjadi kunci keberhasilan dalam membangun karier dan memberikan kontribusi bagi bangsa," kata Cris.
Perwakilan LLDIKTI Wilayah III, Aprie Wellandira Surhadi, menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat serta dunia kerja.
Adapun Sekretaris DPW PPNI DKI Jakarta, Maryanto, mengingatkan para lulusan bidang kesehatan agar senantiasa menjunjung tinggi etika profesi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
"Profesi kesehatan bukan hanya tentang kompetensi, tetapi juga tentang integritas, empati, dan tanggung jawab. Jagalah kepercayaan masyarakat dengan memberikan pelayanan yang profesional dan berlandaskan etika," ujarnya.
Tingginya tingkat penyerapan lulusan tersebut menunjukkan kebutuhan tenaga perawat masih terus meningkat. Selain memenuhi kebutuhan layanan kesehatan di dalam negeri, lulusan keperawatan Indonesia juga memiliki peluang yang semakin besar untuk berkarier di pasar kerja internasional.
.png)
1 day ago
8
















































