REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memastikan tetap mengawal pergerakan nilai tukar rupiah di pasar luar negeri (offshore) meski pasar domestik libur saat Hari Suci Nyepi dan Idul Fitri. Hal itu diungkapkan oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, untuk menekankan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah.
“Kita boleh libur Lebaran, tetapi pasar offshore non-deliverable forward (NDF) tetap berjalan dan BI New York akan terus mengawal rupiah,” ujar Perry, Selasa (17/3/2026).
Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menambahkan BI terus memantau pasar rupiah selama 24 jam dan siap melakukan intervensi di pasar global jika diperlukan.
“Seluruh upaya akan kami lakukan, termasuk intervensi di pasar spot, DNDF, dan NDF,” kata Destry.
Perang yang terus bergulir di wilayah Timur Tengah membuat BI tidak membuka ruang penurunan suku bunga acuan (BI Rate) pada pengumuman Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Maret 2026. BI menekankan akan fokus pada stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah.
“Dalam situasi seperti sekarang, di mana volatilitas dan ketidakpastian sangat tinggi, maka BI akan fokus pada stabilisasi, khususnya bagaimana menjaga stabilitas rupiah kita,” ujar Destry.
BI sangat mencermati perkembangan yang terjadi di Timur Tengah dan dampaknya secara lebih luas terhadap emerging market, termasuk Indonesia. Berdasarkan hasil diskusi Dewan Gubernur BI, dampak utama yakni fluktuasi harga minyak dunia dan rambatannya terhadap pertumbuhan ekonomi dunia serta inflasi global.
Di samping itu, dampak yang kentara juga terjadi pada pasar keuangan global yang memburuk. BI mencatat aliran modal portofolio asing keluar dari negara-negara emerging market, termasuk Indonesia. Selain itu, penguatan indeks dolar AS juga turut menerpa nilai mata uang emerging market, di antaranya rupiah.
BI mencatat, per 16 Maret 2026, rupiah berada di posisi Rp 16.985 per dolar AS atau melemah 1,29 persen (ptp) dibandingkan level akhir Februari 2026, sejalan dengan pelemahan mata uang negara non-USD.
“Sebagai gambaran, saat ini semua mata uang emerging market terpuruk. Rupiah memang terdepresiasi 1,29 persen, tetapi kita lihat beberapa negara lain seperti India 1,52 persen, Filipina 3,71 persen, dan baht Thailand 4,47 persen. Artinya, kita di kawasan ini memang menghadapi permasalahan yang sama. Namun, di BI tentunya kami akan terus fokus menjaga stabilitas tersebut,” ungkapnya.
Destry menekankan, BI akan mengoptimalkan instrumen operasi moneter untuk memberikan yield yang menarik dengan risk premium yang makin meningkat karena adanya ketidakpastian global yang sangat tinggi.
BI dipastikan terus melakukan intervensi, baik transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik.
Selain itu, bank sentral juga memperkuat kebijakan transaksi pasar valas yang akan mulai berlaku pada April 2026 untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, yakni melalui penyesuaian threshold tunai beli valas terhadap rupiah dari 100 ribu dolar AS per pelaku per bulan menjadi 50 ribu dolar AS per pelaku per bulan, peningkatan threshold jual DNDF/forward dari 5 juta dolar AS per transaksi menjadi 10 juta dolar AS per transaksi, serta peningkatan threshold beli dan jual swap dari 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.
Destry menambahkan, langkah lainnya sebagai upaya berjaga-jaga pada momen libur panjang Idul Fitri 1447 Hijriyah/2026 Masehi, BI terus memantau pasar rupiah terhadap dolar AS di pasar NDF.
“Walaupun Lebaran libur, tetapi teman-teman di BI akan terus bekerja sama dengan BI New York untuk melakukan pemantauan. Jika dibutuhkan, kami akan masuk ke pasar untuk melakukan intervensi di pasar NDF global,” ujarnya.
.png)
3 hours ago
1















































