Muharram: Monumen Waktu, Renungan atas Hari-Hari Besar dan Penanggalan Keagamaan

1 day ago 9

Oleh: M Farouk Ridwan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kenapa, secara umum, setiap hari besar di kalender berwarna merah dan dijadikan hari libur? Atau mengapa di hampir semua kepercayaan dan agama terdapat peringatan serta festival religius yang diselenggarakan pada tanggal dan waktu tertentu? Seperti perayaan Natal dalam Kristen, Yom Kippur dalam agama Yahudi, Diwali dalam Hindu, Waisak dalam Buddha, dan Nyepi dalam Hindu di Bali.

Dalam Islam terdapat penanggalan seperti 1 Syawal (Idul Fitri), 10 Dzulhijjah (Idul Adha), 15 Sya'ban (malam Nisfu Sya'ban), Maulid Nabi, Isra Mikraj, dan 1 Muharam.

Bahkan pada 9 Dzulhijjah (Hari Arafah) dan 10 Muharam (Hari Asyura), umat Islam dianjurkan berpuasa.

Hari-hari besar keagamaan bukan sekadar tanggal merah di kalender atau perayaan yang gegap gempita, tetapi, menurut sosiologi agama, merupakan monumen waktu yang didirikan secara kolektif oleh para penganutnya untuk mengingat, merayakan, dan menegosiasikan ulang makna hidup beragama. Dalam beberapa agama samawi, peringatan tersebut memang merupakan perintah Tuhan yang tercantum dalam kitab-kitab suci.

Di dalam penanggalan tersebut, waktu linear bertemu dengan waktu sakral, sejarah bertemu dengan mitos, dan individu bertemu dengan komunitas.

Akar peringatan hari-hari besar keagamaan dapat dilacak dari beberapa sumber, yaitu peristiwa sejarah, siklus alam, dan catatan kitab suci.

Sumber pertama adalah berdasarkan pelaku peristiwa. Misalnya, Paskah Yahudi memperingati peristiwa Keluaran dari Mesir, Paskah Kristen merayakan kebangkitan Yesus, sedangkan Idul Adha mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Sementara itu, 10 Muharam dikaitkan dengan berbagai peristiwa, seperti diterimanya tobat Nabi Adam, berlabuhnya bahtera Nabi Nuh di Bukit Judi, selamatnya Nabi Ibrahim dari api, bebasnya Nabi Yusuf dari penjara, selamatnya Nabi Musa dan Bani Israil dari Fir'aun, serta syahidnya Imam Husain di Karbala menurut tradisi Syiah.

Dalam konteks ini, waktu historis yang telah berlalu diangkat menjadi waktu sakral. Tanggalnya diulang setiap tahun agar peristiwa tersebut tidak runtuh menjadi sekadar dongeng atau cerita masa lalu.

Sumber kedua adalah penyesuaian berbagai penanggalan dengan siklus pertanian dan astronomi. Perayaan Diwali dalam Hindu dirayakan ketika memasuki peralihan dari musim gelap menuju terang. Perayaan Natal pada 25 Desember diadopsi karena berdekatan dengan titik balik matahari musim dingin di Eropa Utara. Puasa pada bulan Ramadan mengikuti kalender lunar Arab pra-Islam. Agama tidak menghapus kalender lokal, tetapi membaptis dan menafsirkannya kembali dengan makna baru.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |