Warga mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 245 poin atau 4,20 persen ke level 5.595, hal tersebut memperpanjang tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyedia indeks global, MSCI, pada hari Kamis (18/6/2026) kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai kelayakan investasi (investability) Indonesia. Mereka menyoroti terbatasnya visibilitas dalam kepemilikan saham dan adanya perilaku perdagangan yang terkoordinasi.
Hal ini menjadi pukulan baru bagi pasar saham utama dengan kinerja terburuk di dunia tersebut.
Peringatan ini muncul menjelang keputusan MSCI minggu depan mengenai apakah mereka akan menurunkan klasifikasi pasar Indonesia dari status pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar perintis (frontier market). Langkah penurunan status ini berpotensi memicu aliran modal keluar (outflow) hingga mencapai 13 miliar dolar AS atau sekitar Rp214 triliun.
Pasar modal Indonesia telah merosot tajam sejak MSCI pertama kali mengembuskan kekhawatiran transparansi pada bulan Januari lalu dan memperingatkan adanya potensi penurunan status tersebut.
Dalam tinjauan aksesibilitas pasar yang dirilis hari Kamis, MSCI menurunkan kriteria aliran informasi Indonesia menjadi negatif. Hal ini mencerminkan adanya opasitas (ketidakjelasan) dalam data kepemilikan dan aktivitas pasar, yang dinilai merusak pembentukan harga yang tepat serta membatasi kemampuan investor global untuk menilai jumlah saham publik (free float) yang sebenarnya dari perusahaan-perusahaan terkait.
Peringatan pada bulan Januari lalu sebenarnya sempat memicu serangkaian langkah reformasi dari otoritas setempat, termasuk menggandakan batas minimum free float bagi perusahaan tercatat menjadi 15%. Di saat yang sama, para eksekutif puncak bursa efek dan lembaga regulator juga mengundurkan diri secara massal dalam satu sore di bulan Januari tersebut.
Pada bulan April, MSCI memperpanjang masa tinjauannya terhadap pasar Indonesia. Kemudian pada bulan Mei, MSCI mendepak enam perusahaan yang sebagian besar terkait dengan para taipan besar, dari indeks mereka, yang akhirnya memicu penurunan tajam harga saham kembali.
Penurunan status oleh MSCI yang merupakan salah satu penyedia indeks pasar terbesar di dunia yang menjadi acuan miliaran dolar investasi pasif, akan memaksa dana indeks (tracking funds) untuk melakukan aksi jual. Selain itu, kondisi ini akan menekan para manajer investasi aktif yang berbasis pada indeks MSCI untuk segera mengurangi eksposur mereka di Indonesia.
sumber : Reuters
.png)
8 hours ago
6










































