naisyah desvita sari
Lainnnya | 2026-06-22 18:29:30
Latar Belakang
Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Setiap hari, jutaan remaja dan mahasiswa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengakses berbagai platform seperti Instagram, TikTok, X, Facebook, dan YouTube. Media sosial memberikan kemudahan dalam berkomunikasi, memperoleh informasi, mengekspresikan diri, hingga membangun relasi sosial tanpa batas geografis. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, muncul berbagai persoalan yang semakin sering menjadi perhatian, salah satunya adalah kesehatan mental generasi muda.
Fenomena meningkatnya penggunaan media sosial telah mengubah cara generasi muda berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Kehidupan yang sebelumnya lebih banyak berlangsung secara langsung kini bergeser ke ruang digital. Tidak sedikit remaja yang merasa lebih nyaman berkomunikasi melalui layar dibandingkan bertemu secara tatap muka. Perubahan ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru dalam kehidupan sosial dan psikologis masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan mental di era digital bukan lagi sekadar isu pribadi, melainkan telah menjadi isu sosial yang perlu mendapat perhatian bersama.
Besarnya penggunaan media sosial pada kelompok usia muda terlihat laporan We Are Social dan Hootsuite tahun 2020, dari sekitar 4,5 miliar pengguna internet di dunia, sebanyak 3,8 miliar di antaranya merupakan pengguna media sosial. Dan di Indonesia, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet mencapai 171,17 juta orang atau sekitar 64,8% dari total populasi, dengan kelompok usia 15–19 tahun sebagai pengguna terbanyak , kemudian rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar enam jam per hari untuk mengakses internet dan media sosial. Penelitian dari University of Oxford yang dikutip oleh Muhafilah dan Suwarningsih (2023) menunjukkan bahwa durasi ideal aktivitas daring dalam sehari adalah sekitar 257 menit atau 4 jam 17 menit. Penggunaan yang melebihi durasi tersebut berpotensi mengganggu kinerja otak dan memengaruhi kesejahteraan psikologis individu. Bahkan, sekitar 91% pengguna internet berasal dari kelompok usia remaja, sehingga generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak penggunaan media sosial secara berlebihan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan mental di era digital bukan lagi sekadar isu pribadi, melainkan telah menjadi isu sosial yang perlu mendapat perhatian bersama.
Media Sosial: Pedang Bermata Dua
Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial memberikan banyak manfaat bagi generasi muda. Media sosial memungkinkan seseorang memperoleh informasi dengan cepat, memperluas jaringan pertemanan, meningkatkan kreativitas, serta menjadi sarana pembelajaran yang efektif. Penelitian Halawa dan Zebua (2026) menunjukkan bahwa media sosial memberikan berbagai dampak positif bagi penggunanya, terutama dalam hal akses informasi dan komunikasi. Melalui platform digital ini, individu menjadi lebih mudah memperoleh pengetahuan secara cepat, mengikuti perkembangan terbaru, serta memperluas wawasan di berbagai bidang , kemudian, media sosial juga membantu memperlancar komunikasi karena mampu menghubungkan seseorang dengan teman maupun keluarga tanpa terhalang jarak dan waktu. Dalam praktiknya, hal ini membuat interaksi sosial menjadi lebih mudah dan tetap terjaga meskipun berada di tempat yang berbeda.
Di sisi lain, penggunaan media sosial yang berlebihan tetap dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental. Paparan informasi yang terus-menerus serta kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat memicu stres, kecemasan, hingga depresi pada sebagian individu. Kondisi ini dapat semakin buruk jika penggunaan media sosial tidak terkontrol, seperti berkurangnya interaksi langsung, gangguan pola tidur, serta munculnya perasaan kesepian dan rendah diri. Dengan itu, penting bagi generasi muda untuk menyeimbangkan penggunaan media sosial dengan aktivitas di dunia nyata agar kesehatan mental tetap terjaga.
Kemudian diperkuat oleh Penelitian Hermawan dan Nurohman (2024) terhadap 150 remaja usia 13–18 tahun menemukan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkorelasi dengan meningkatnya tingkat kecemasan dan depresi. Meskipun media sosial mampu memfasilitasi hubungan sosial dan ekspresi diri, penggunaan yang tidak terkendali dapat menimbulkan dampak psikologis yang serius.
Dengan kata lain, media sosial ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi memberikan manfaat besar, tetapi di sisi lain dapat menjadi ancaman apabila digunakan tanpa kesadaran dan pengendalian diri.
Fenomena Perbandingan Sosial di Dunia Maya
Salah satu faktor yang paling sering memengaruhi kesehatan mental generasi muda adalah fenomena social comparison atau perbandingan sosial, Konsep social comparison atau perbandingan sosial menjelaskan bahwa individu memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya dengan membandingkan kehidupan, pencapaian, maupun kondisi orang lain yang terlihat di media sosial. (Apsari dan Utomo 2024)
Di media sosial, seseorang cenderung menampilkan sisi terbaik dari kehidupannya. Foto-foto liburan, pencapaian akademik, kesuksesan karier, hingga penampilan fisik yang menarik sering kali mendominasi lini masa pengguna. Akibatnya, banyak remaja mulai membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih sempurna.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya. Sayangnya, tidak semua pengguna menyadari hal tersebut. Banyak generasi muda yang akhirnya merasa kurang berharga, kurang menarik, atau kurang sukses dibandingkan orang lain.
Berdasarknan penelitian dari Ginting dkk. (2025) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menyebabkan kecemasan, stres, depresi, insomnia, dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Salah satu mekanisme yang memicu kondisi tersebut adalah kecenderungan melakukan perbandingan sosial secara terus-menerus.
Fenomena ini menjadi semakin kuat karena media sosial sering menjadikan jumlah pengikut, tanda suka, dan komentar sebagai indikator popularitas. Tidak sedikit pengguna yang menggantungkan rasa percaya dirinya pada validasi dari orang lain di dunia maya.
Fear of Missing Out (FoMO) dan Tekanan Sosial Digital
Selain perbandingan sosial, fenomena Fear of Missing Out (FoMO) juga menjadi salah satu tantangan besar bagi kesehatan mental generasi muda.
Menurut Fitri dkk. (2024), Fear of Missing Out (FOMO) diartikan sebagai perasaan takut, cemas, atau khawatir yang muncul pada individu karena merasa tertinggal informasi baru, seperti berita, tren, maupun aktivitas yang dilakukan oleh orang lain dalam lingkungan digital.
Berdasarkan penelitian oleh Ginting dkk. (2025) Menunjukan bahwa FoMO memiliki hubungan yang sangat kuat dengan konformitas sosial. Individu yang memiliki tingkat FoMO tinggi cenderung mengikuti perilaku kelompok demi memperoleh penerimaan sosial. Mereka merasa harus selalu aktif, selalu mengikuti tren, dan selalu mengetahui perkembangan terbaru di media sosial.
Akibatnya, banyak generasi muda mengalami kelelahan mental karena merasa tidak pernah benar-benar bisa beristirahat dari dunia digital. Mereka terus terhubung dengan ponsel, bahkan hingga larut malam. Kondisi ini berdampak pada kualitas tidur, konsentrasi belajar, serta kesejahteraan psikologis secara keseluruhan.
Tekanan sosial digital yang terus berlangsung dapat menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Semakin sering seseorang merasa tertinggal, semakin sering pula ia mengakses media sosial, dan semakin besar pula risiko munculnya gangguan kesehatan mental.
Pentingnya Literasi Digital dan Pengendalian Diri
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, generasi muda memerlukan kemampuan literasi digital yang baik. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami, mengevaluasi, dan mengelola informasi secara kritis.
Penelitian Halawa dan Zebua (2026) menegaskan bahwa peningkatan literasi digital sangat penting bagi generasi muda agar mampu memanfaatkan media sosial secara optimal. Dengan memiliki literasi digital yang baik, individu tidak hanya dapat mengakses dan menggunakan informasi dengan lebih bijak, tetapi juga mampu memilah dampak positif dan negatif dari penggunaan media sosial sehingga risiko dampak buruknya dapat diminimalkan.
Selain literasi digital, kemampuan pengendalian diri (self-control) juga memiliki peran yang sangat penting dalam penggunaan media digital. Kajian Ginting dkk. (2025) menunjukkan bahwa self-control berpengaruh besar dalam mencegah kecanduan internet serta membantu individu menjaga keseimbangan psikologis. Individu dengan self-control yang baik cenderung mampu mengatur durasi penggunaan media sosial, tidak mudah terdorong untuk terus-menerus online, serta lebih mampu menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.
Generasi muda perlu menyadari bahwa media sosial hanyalah alat, bukan pusat kehidupan. Kemampuan mengatur waktu penggunaan media sosial menjadi langkah sederhana tetapi sangat penting untuk menjaga kesehatan mental.
Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain:
- Membatasi durasi penggunaan media sosial setiap hari.
- Menghindari penggunaan media sosial sebelum tidur.
- Menonaktifkan notifikasi yang tidak penting.
- Memperbanyak aktivitas di dunia nyata seperti olahraga, membaca, atau berkumpul dengan keluarga.
- Mengembangkan hubungan sosial yang sehat secara langsung.
Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, generasi muda dapat menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan teknologi.
Membangun Keseimbangan di Era Digital
Perkembangan teknologi digital tidak mungkin dihentikan. Media sosial akan terus menjadi bagian dari kehidupan manusia, terutama generasi muda yang tumbuh sebagai digital native. Oleh karena itu, solusi yang paling realistis bukanlah menjauhi teknologi, melainkan belajar menggunakannya secara bijak.
Keseimbangan menjadi kata kunci dalam menghadapi era digital. Media sosial dapat menjadi sarana belajar, berkomunikasi, dan berkembang apabila digunakan secara proporsional. Sebaliknya, penggunaan yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan mental yang berdampak pada kualitas hidup seseorang.
Peran keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat juga sangat penting dalam menciptakan lingkungan digital yang sehat. Edukasi mengenai kesehatan mental dan literasi digital perlu diberikan sejak dini agar generasi muda memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai tantangan yang muncul di ruang digital.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental bukan berarti menghindari media sosial sepenuhnya, melainkan memahami batasannya. Generasi muda perlu belajar bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, tanda suka, atau komentar di media sosial. Kebahagiaan yang sejati tidak berasal dari validasi digital, tetapi dari kemampuan menerima diri sendiri dan membangun hubungan yang sehat dengan lingkungan sekitar.
Penutup
Media sosial telah membawa perubahan besar dalam kehidupan generasi muda. Kehadirannya memberikan banyak manfaat, mulai dari kemudahan akses informasi hingga perluasan jejaring sosial. Namun, penggunaan yang tidak terkendali juga dapat memicu berbagai masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, stres, FoMO, gangguan tidur, dan rendahnya kepercayaan diri.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan dalam penggunaan media sosial merupakan faktor penting dalam menjaga kesehatan mental. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital, pengendalian diri, serta dukungan dari lingkungan sosial menjadi langkah yang perlu terus dikembangkan.
Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi, generasi muda perlu menyadari bahwa kehidupan yang sehat bukanlah kehidupan yang selalu terhubung dengan dunia maya, melainkan kehidupan yang mampu menyeimbangkan aktivitas digital dan realitas sosial secara bijaksana.
Daftar Pustaka
Muhafilah, I., & Suwarningsih, S. (2023). Durasi penggunaan media sosial dan tingkat stres dengan kualitas tidur pada remaja. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 12(05), 346-351. https://doi.org/10.33221/jikm.v12i05.2076
Ginting, L. R., Alfarizi, F., Sitorus, G. S. R., Situmeang, E. V., & Putri, S. D. (2025). Psikologi digital: Dinamika generasi Z dalam era media sosial. EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN, ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT, 5(3), 132-141.https://doi.org/10.56832/edu.v5i3.1783
Sarumaha, M., Manik, R. M., Borus, A. V. B., & Sitepu, A. B. (2024). Hubungan penggunaan media sosial dengan kesehatan mental remaja. Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Husada: Health Sciences Journal, 15(02), 333-342.
Hermawan, A., & Nurohman, D. A. (2024). Menyelidiki Pengaruh Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Remaja denga Pendekatan Psikologi Perkembangan. Jurnal Psikologi Dan Konseling West Science, 2(02), 93-99.
Halawa, Y., & Zebua, D. (2026). DAMPAK MEDIA SOSIAL BAGI GENERASI MUDA. JIMAKUN: Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Nusantara, 2(1). https://doi.org/10.70134/jimakun.v2i1.1225
Fitri, H., Hariyono, D. S., & Arpandy, G. A. (2024). Pengaruh self-esteem terhadap fear of missing out (FOMO) pada generasi Z pengguna media sosial. Jurnal Psikologi, 1(4), 21.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
4 hours ago
1







































