Menhaj Dorong PPIH Layani Tamu Allah, Bukan Pejabat

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Menteri Haji dan Umrah, Mochammad Irfan Yusuf, menegaskan bahwa petugas haji tidak melayani pejabat, kelompok, atau instansi tertentu, melainkan seluruh jamaah tanpa kecuali.

"Satu jamaah tertinggal adalah kegagalan kita semua. Petugas harus mendahulukan kepentingan jamaah dibanding kepentingan pribadi, termasuk ibadah sunnah atau aktivitas individu,” katanya saat melakukan peninjauan aktivitas pagi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang tengah mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) di Asrama Haji Pondok Gede pada Rabu (14/1/2026) pagi.

Ia juga menekankan sejumlah prinsip utama yang wajib dipegang petugas haji, antara lain tepat waktu sebagai harga mati, siap bekerja di bawah tekanan, siap menerima arahan, dan saling membackup antarpetugas.

“Haji adalah operasi besar, kompleks, dan sensitif. Tanpa kekompakan, pelayanan akan runtuh. Tidak ada yang berjalan sendiri, tidak ada yang merasa paling penting,” katanya.

Peninjauan kemarin dilakukan untuk melihat secara langsung kesiapan, kedisiplinan dan pola pembinaan kedisiplinan petugas haji sejak awal kegiatan harian. Gus Irfan menegaskan bahwa pembentukan karakter dan etos kerja dimulai dari hal-hal mendasar dalam keseharian selama diklat.

Dalam peninjauan tersebut, Gus Irfan melihat langsung rangkaian aktivitas peserta diklat pagi petugas, mulai dari apel, persiapan kelas, hingga layanan pendukung yang diterima peserta diklat. Ia menilai bahwa keteraturan aktivitas dan dukungan fasilitas yang memadai menjadi bagian penting dalam menyiapkan petugas haji yang profesional dan berintegritas.

“Menjadi PPIH berarti siap menjalani proses, termasuk menerima dinamika pelayanan dengan sikap lapang dada dan penuh tanggung jawab. Semua itu adalah bagian dari pengabdian,” ujar Gus Irfan.

Menteri Haji dan Umrah mengingatkan bahwa PPIH merupakan wajah negara sekaligus representasi pelayanan kepada tamu-tamu Allah. Karena itu, setiap petugas dituntut untuk mampu bersikap arif, menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan pribadi, serta menjaga marwah institusi dalam setiap tindakan.

Dalam konteks era keterbukaan informasi, Menteri juga menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam menyikapi berbagai situasi selama proses persiapan maupun pelaksanaan ibadah haji. Ia mengajak seluruh PPIH untuk mengedepankan komunikasi yang bertanggung jawab, proporsional, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

 “Tidak semua hal harus disikapi secara reaktif. Petugas haji dituntut mampu memilah, menyaring, dan menyampaikan informasi secara tepat, sehingga tidak menimbulkan salah tafsir dan tetap menjaga kepercayaan publik,” lanjutnya.

Gus Irfan menegaskan bahwa sikap profesional, kedewasaan dalam berkomunikasi, serta keikhlasan dalam melayani merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari tugas PPIH sebagai pelayan jemaah haji.

Kementerian Haji dan Umrah berkomitmen untuk terus memperkuat pembinaan PPIH, baik dari aspek kompetensi, kesejahteraan, maupun etika pelayanan, demi mewujudkan penyelenggaraan ibadah haji yang aman, tertib, dan bermartabat.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |