Mengenal Rhabdomyolysis, Kerusakan Otot Masif yang Mengintai Pelari tanpa Persiapan

5 hours ago 3

Pelari mengikuti BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 hari kedua di kawasan Monas, Jakarta, Ahad (14/6/2026). BTN JAKIM 2026 diikuti sekitar 45.500 peserta terdiri 8.600 peserta kategori marathon, 16.400 peserta half marathon, 15.000 peserta 10K dan 5.500 peserta 5K berasal dari 52 negara itu diselenggarakan untuk memeriahkan HUT ke-499 DKI Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang peserta Half Marathon BTN Jakarta International Marathon (Jakim) 2026 dilaporkan meninggal dunia setelah sempat kolaps saat mengikuti ajang tersebut pada Ahad (14/6/2026). Peserta asal Lombok itu sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis, namun nyawanya tidak tertolong.

Menurut laporan, runner bernama Agus Putranadi itu mengalami rhabdomyolysis yaitu kerusakan otot masif yang melepaskan mioglobin ke darah dan berisiko gagal ginjal akut. Lantas apa saja pemicu dan tanda awal yang perlu diwaspadai?

Dokter sekaligus Sekretaris Jenderal Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI), dr Putro S Muhammad, mengungkapkan tiga faktor utama yang kerap memicu rhabdomyolysis pada pelari. Pertama, adalah beban fisik berlebih (overexertion) tanpa persiapan latihan yang memadai.

"Faktor kedua yaitu dehidrasi, dan terakhir adalah stres panas akibat suhu dan kelembaban udara yang tinggi," kata dr Putro saat dihubungi Republika, Kamis (18/6/2026).

Menurut dr Putro, pelari harus memahami bahwa gejala awal rhabdomyolysis berbeda dengan DOMS (Delayed Onset Muscle Soreness) atau nyeri otot yang umum muncul setelah aktivitas fisik berat. DOMS merupakan respons normal tubuh setelah berolahraga. Kondisi ini biasanya muncul dalam rentang 24 hingga 48 jam setelah aktivitas fisik, ditandai nyeri otot yang berkembang secara bertahap dan cenderung membaik dengan gerakan ringan.

Sebaliknya, gejala rhabdomyolysis muncul lebih cepat, terasa jauh lebih berat, dan tidak membaik meski tubuh sudah beristirahat. Salah satu tanda awal yang perlu diwaspadai adalah nyeri otot yang sangat hebat seperti diremas kuat, yang sudah muncul ketika perlombaan masih berlangsung atau setelah selesai.

Pelari juga dapat mengalami pembengkakan pada otot, terutama di area paha dan betis. Bahkan menurut dr Putro, otot akan terasa lebih keras dibandingkan biasanya.

"Tanda bahaya lainnya adalah muncul kelelahan yang masif disertai mual atau muntah, yang tidak kunjung membaik meski sudah beristirahat," ujar dr Putro.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |