Marak Percaloan, Kemenag akan Benahi Tata Kelola Pengiriman Mahasiswa RI ke Al Azhar Kairo

6 days ago 22

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Maraknya praktik percaloan calon mahasiswa Indonesia yang ingin belajar di Universitas Al Azhar Kairo terungkap dalam pertemuan antara Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii dengan Dubes RI untuk Mesir Kuncoro Giri Waseso di Jakarta, belum lama ini. 

Kuncoro mengaku masih menemukan praktik perantara atau broker keberangkatan mahasiswa Indonesia ke Al Azhar, Kairo. Menurut dia, ada dugaan keterlibatan warga negara Indonesia yang berperan sebagai mediator sekaligus memiliki indikasi keterkaitan dengan jaringan radikal.

"Persoalan non-akademik ini sangat banyak. Selain praktik broker, kami juga memberikan perhatian serius terhadap potensi penyebaran paham radikal. Karena itu diperlukan tata kelola yang lebih kuat sejak mahasiswa berangkat dari Indonesia," kata Kuncoro lewat ketereangan tertulis.

Ia menambahkan, KBRI di Kairo siap memperkuat koordinasi dengan Kementerian Agama dalam membangun sistem pendataan, pembinaan, dan perlindungan mahasiswa Indonesia selama menjalani pendidikan di Mesir.

Dalam pertemuan tersebut, ujar Kuncoro, kedua pihak juga membahas peluang penguatan kerja sama pendidikan Indonesia-Mesir, termasuk rencana mengundang Grand Syekh Al-Azhar ke Indonesia melalui mekanisme diplomatik sesuai tata protokol kenegaraan.

Sementara itu, Romo Syafi'i mengatakan, minat masyarakat Indonesia untuk melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar terus meningkat dari tahun ke tahun. Meski demikian, tingginya animo itu belum sepenuhnya diimbangi dengan sistem tata kelola yang mampu mengakomodasi kebutuhan calon mahasiswa secara optimal.

"Keinginan anak-anak Indonesia untuk kuliah di Al-Azhar sangat besar, sementara kuota yang tersedia terbatas. Kondisi ini harus kita tata agar mereka tetap memperoleh kesempatan belajar melalui mekanisme yang jelas, aman, dan berada dalam pembinaan pemerintah," ujarnya dalam keterangan persnya, Selasa (7/7/2026).

Menurut dia, Kemenag ingin membangun sistem yang mampu meminimalkan praktik percaloan sekaligus memastikan seluruh mahasiswa Indonesia yang belajar di Mesir berada dalam pendataan dan pengawasan yang baik. Karena itu, Kemenag membuka ruang penyusunan regulasi bersama antara pemerintah Indonesia dan pihak Al-Azhar agar mekanisme rekomendasi maupun penerimaan mahasiswa dapat berjalan selaras.

"Kita harus membangun kesepahaman lebih dahulu dengan Al-Azhar sehingga regulasi yang kita susun sejalan dengan persyaratan penerimaan mereka. Yang kita cari adalah solusi konkret agar anak-anak kita tetap bisa belajar di sana dengan pembinaan yang lebih baik," ucapnya.

Selain itu, Romo Syafi'i mengungkapkan gagasan membuka kelas persiapan atau perkuliahan Al-Azhar di Indonesia. Melalui skema tersebut, sebagian masa studi dapat ditempuh di Indonesia dengan menghadirkan dosen maupun profesor dari Al-Azhar sebelum mahasiswa melanjutkan pendidikan ke Mesir.

Menurut dia, konsep tersebut tidak hanya berpotensi meningkatkan kualitas akademik calon mahasiswa, tetapi juga mengurangi penumpukan keberangkatan serta memastikan mereka lebih siap saat menempuh studi di Mesir."Saya melihat gagasan ini sangat menarik. Selain dapat meningkatkan kualitas akademik, juga dapat mengurangi penumpukan keberangkatan sekaligus memastikan mahasiswa yang berangkat benar-benar siap," katanya.

Pengalaman korban

Pengalaman pahit dirasakan Muhammad Daffa Ilyanji, santri asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang berangkat ke Kairo, Mesir pada 2023 lalu. Daffa yang hendak menggapai mimpinya untuk menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo, terjebak oleh ulah mediator ‘nakal’. Dia bersama rombongan bahkan nyaris telantar setibanya di Mesir. 

Perjalanan Daffa dimulai pada 1 Januari 2023 lalu. Dia beserta rombongan dari sebuah pondok pesantren di Lombok berangkat menuju Jakarta untuk mengikuti proses pemberangkatan ke Mesir. Daffa hendak menjadi mahasiswa Universitas Al Azhar melalui  jalur Ma’had Azhari, institusi pendidikan setingkat SMP-SMA di bawah naungan Al Azhar. Lulusannya bisa langsung masuk ke salah satu kampus tertua di dunia tersebut.

“Kami berenam dari Lombok, kemudian bergabung dengan rombongan lain di Jakarta, total ada 23 orang,” ujar Daffa sat bercerita kepada tim Republika melalui komunikasi virtual, Senin (21/7/2025). 

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |