Lagi-Lagi Dieng Diselimuti Salju, Suhu Turun Hingga Minus 3 Derajat

16 hours ago 4

Wisatawan menujukkan suhu udara yang turun hingga minus tiga derajat celcius dan menyebabkan embun beku di Lapangan Pandawa, dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, Ahad (12/7/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena embun beku atau embun upas di dataran tinggi Dieng terjadi pada musim kemarau sekitar Juni - September akibat angin monsun Australia yang membawa massa udara kering sehingga suhu permukaan dapat turun hingga di bawah nol derajat celsius dan membekukan uap air menjadi embun beku.

REPUBLIKA.CO.ID, BANJARNEGARA -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau wisatawan yang berkunjung ke kawasan dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, pada periode Juli hingga September untuk mewaspadai penurunan suhu yang menimbulkan fenomena embun beku atau embun upas. Karena penurunan suhu tersebut, wilayah Dieng diselimuti embun upas seperti hamparan salju.

"Kami imbau wisatawan yang akan berkunjung selama periode Juni sampai September untuk menyiapkan pakaian yang disesuaikan dengan kondisi setempat, seperti jaket tebal, sarung tangan, dan kaus kaki kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Semarang, Yoga Sambodo, di Semarang, Kamis. 

Menurut dia, suhu di kawasan Dieng pada periode itu bisa mencapai di bawah nol derajat Celcius. Ia menjelaskan fenomena butiran es di permukaan itu dikenal masyarakat sebagai fenomena embun upas. Secara klimatologis, kata dia, tekanan udara pada periode Juni hingga September lebih tinggi di Benua Australia dibanding Asia. 

Ia menuturkan angin yang berhembus dari Australia menuju Asia yang melewati Indonesia, umumnya menandai dimulainya periode musim kemarau , seiring dengan aktifnya monsun Australia. Pada musim kemarau, kata dia, tutupan awan sangat minimum, sehingga tidak heran jika pada siang hari, matahari akan terasa sangat terik diiringi dengan peningkatan suhu udara. Hal tersebut, lanjut dia, terjadi karena tidak ada objek di langit yang menghalau sinar matahari. 

"Sama seperti pada siang hari, radiasi yang dipancarkan balik oleh permukaan bumi pada malam hari juga optimum karena langit bebas dari tutupan awan," katanya. 

Ia menambahkan kelembapan udara cukup tinggi di wilayah pegunungan dan dataran tinggi. Kelembapan udara yang tinggi, lanjut dia, merupakan indikasi udara di wilayah tersebut memiliki kadar air yang tinggi. BMKG, menurut dia, memprakirakan fenomena embun upas akan mencapai puncak pada bulan Agustus. 

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |