Krisis Iklim Perparah Ancaman Panas Ekstrem di Indonesia

2 hours ago 4

Seperti banyak wilayah dunia lainnya, musim panas kali ini juga ditandai cuaca panas ekstrem di Amerika Serikat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Krisis iklim semakin meningkatkan frekuensi panas dan kelembapan ekstrem di Indonesia. Kondisi tersebut memperbesar risiko gangguan kesehatan masyarakat sekaligus menjadi peringatan bahwa dampak perubahan iklim kini semakin nyata dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Laporan terbaru Climate Central bertajuk Global Analysis: Dangerous Humid Heat Rising Due to Climate Change menunjukkan jumlah hari panas dan lembap berbahaya di Indonesia meningkat dari rata-rata 82 hari pada dekade 1970-an menjadi 174 hari sepanjang periode 2016-2025. Dari jumlah tersebut, sebanyak 118 hari atau 68 persen dipicu oleh perubahan iklim.

Secara global, jumlah hari panas dan lembap berbahaya juga meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima dekade terakhir, dari rata-rata 10 hari per tahun pada era 1970-an menjadi 23 hari per tahun sepanjang 2016-2025. Climate Central mencatat sekitar 64 persen dari seluruh hari panas-lembap ekstrem sejak 1970 merupakan dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Ilmuwan Iklim Terapan Climate Central, Kaitlyn Trudeau, mengatakan perubahan iklim kini telah bertransformasi dari faktor pelengkap menjadi penyebab utama meningkatnya kejadian panas dan kelembapan ekstrem di berbagai belahan dunia.

"Temuan ini menunjukkan betapa signifikan krisis iklim mengubah bumi kita. Panas dan lembap ekstrem berbahaya telah berubah dari kejadian luar biasa menjadi kenyataan hidup sehari-hari di beberapa daerah, mendorong kondisi lingkungan mendekati batas aman kemampuan tubuh menahan beban," ujar Kaitlyn.

Dalam laporan tersebut, Climate Central menggunakan suhu bola basah (wet-bulb temperature) sebesar 25 derajat Celsius atau lebih sebagai indikator kondisi panas dan lembap berbahaya. Pada tingkat tersebut, kemampuan tubuh melepaskan panas melalui penguapan keringat mulai menurun sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Laporan itu juga menunjukkan kawasan tropis menjadi wilayah yang mengalami peningkatan paling signifikan. Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kini menjadi salah satu kawasan dengan frekuensi hari panas-lembap ekstrem tertinggi di dunia akibat pengaruh perubahan iklim.

Kaitlyn menegaskan temuan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan telah memengaruhi kondisi cuaca yang dialami masyarakat setiap hari. Karena itu, berbagai langkah pengurangan emisi gas rumah kaca dinilai menjadi bagian penting untuk menekan laju pemanasan global sekaligus mengurangi risiko meningkatnya kejadian panas ekstrem di masa mendatang.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |