Kisah Reza Marwansyah, dari Tukang Bersih-Bersih hingga Sukses di Industri Teknologi

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Jalan hidup terkadang tidak menawarkan banyak pilihan bagi mereka yang terlahir dalam keterbatasan ekonomi. Bagi sebagian orang, himpitan hidup adalah alasan untuk menyerah. Namun, bagi Reza Marwansyah, kerasnya kehidupan justru menjadi cambuk untuk memutarbalikkan takdir.

Kini, siapa sangka, pria yang ahli mengotak-atik sistem Artificial Intelligence (AI) ini pernah menghabiskan masa mudanya sebagai pekerja serabutan. Freelance terkenalnya, tapi untuk jenis pekerjaan lapangan. Reza, lulusan Program Studi (Prodi) Informatika S1 Universitas Nusa Mandiri (UNM) tahun 2021 ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan yang dibarengi dengan tekad, mampu mendobrak tembok kemiskinan.

Bermula dari Sapu dan Pel di Gerai Cepat Saji

Kisah Reza bermula pada tahun 2007. Saat teman-teman sebayanya merayakan kelulusan SMA, berkumpul dengan obrolan mau kuliah kemana setelah ini, seakan obrolannya tidak relate dengan Reza yang harus menelan pil pahit. Ketiadaan biaya memaksanya mengubur mimpinya dalam-dalam untuk kuliah.

Demi menyambung hidup, ia turun ke jalan, melakoni berbagai pekerjaan kerah biru. Ia pernah berdiri berjam-jam sebagai Sales Promotion Boy (SPB) di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Mangga Besar, Lokasari. Ia juga pernah menjadi pramuniaga di Fuji Film, hingga memegang sapu dan kain pel sebagai tukang bersih-bersih di gerai makanan cepat saji KFC.

Berada di titik terbawah strata pekerja menyadarkan Reza pada satu hal, masa depan akan semakin kejam jika ia tidak membekali diri dengan pendidikan yang mumpuni. Melihat pesatnya laju dunia digital, instingnya mengatakan bahwa teknologi adalah kunci.

Ia pun nekat mendaftar kuliah kelas karyawan di UNM. Namun, keberanian itu datang dengan harga mahal. "Tantangan terbesar memang dari perekonomian bawah untuk survive. Kita makan saja susah, apalagi memikirkan biaya sekolah dan uang semester yang ternyata cukup besar waktu itu," kenang Reza dengan senyum getir.

Demi membayar biaya kuliah, Reza memeras keringat sebagai kurir. Ritme hidupnya berubah drastis menjadi perlombaan melawan waktu. Lelah yang menumpuk sering kali tak tertahankan, hingga ia kerap tertidur di ruang kelas.

"Pagi diomelin bos, malam diomelin dosen karena tidur di kelas. Dosen bilang, 'Kampus ini bukan tempat kos!'. Tapi saya memaklumi, beliau bertanggung jawab mendidik, sementara badan saya sudah sangat lelah menjalankan dua prioritas sekaligus," ceritanya.

Di tengah masa-masa berat itu, takdir mempertemukannya dengan Pak Arif, seorang dosen inspiratif yang kemudian menjadi mentornya. Dari dialah, mata Reza terbuka lebar akan potensi besar teknologi Cloud dan Artificial Intelligence (AI).

Menyiasati Pandemi dengan Inovasi

Ketertarikan Reza pada AI membawanya pada sebuah pembuktian besar di penghujung masa kuliahnya. Saat pandemi Covid-19 melanda dan melumpuhkan berbagai sektor, ia mengingat pesan mendalam dari sang dosen: "Jangan cuma bikin skripsi atau website biasa. Buatlah sesuatu yang punya legacy."

Berangkat dari kesulitan aparatur negara dan TNI dalam mendisiplinkan warga memakai ;masker saat masa PSBB, ide brilian itu muncul. Reza merancang sistem AI yang diintegrasikan dengan CCTV untuk mendeteksi penggunaan masker secara otomatis. Inovasi yang lahir dari kepekaan sosial ini bukan hanya mengantarkannya meraih gelar sarjana, tetapi juga terus dikutip sebagai referensi akademik hingga hari ini.

Karya itu pula yang menjadi tiket emasnya menembus industri. Melalui program Kampus Merdeka, Reza bergabung dengan startup Orbit Future Academy. Berawal dari seorang Mentor AI, dedikasi dan penguasaan teknisnya membawa Reza menduduki posisi strategis sebagai Senior AWS Instructor.

Filosofi Gerobak Rongsok dan Ancaman AI

Meraih kesuksesan tak lantas membuat Reza lupa daratan. Ia memegang erat prinsip yang ditanamkan dosennya, "jangan pernah berhenti belajar". Baginya, mendapatkan ijazah bukanlah garis finis.

Sebuah momen di jalanan Jakarta menjadi pengingat abadi baginya. Suatu hari, ia melihat seorang ibu bersusah payah mendorong gerobak rongsok, sementara anaknya asyik bermain kapal-kapalan di atas gerobak tersebut.

"Pemandangan itu menampar saya. Bertahan hidup dan mencari kebahagiaan itu butuh perjuangan yang tak kenal henti. Kebahagiaan bukan sekadar soal pamer uang seperti yang sering dinarasikan di media sosial," tuturnya merenung.

Kini, sebagai praktisi teknologi, Reza memandang masa depan dengan kacamata yang realistis sekaligus kritis. Ia memperingatkan generasi muda bahwa tantangan ke depan tidak lagi sama. "Saingan kalian nanti sudah bukan manusia lagi, tapi AI," tegasnya.

Menurut Reza, sekadar bisa memakai AI (seperti ChatGPT) tidaklah cukup. Mahasiswa harus paham cara kerja di baliknya (behind the scene) dan proses deployment. Ia juga menyoroti fenomena mahasiswa yang menggunakan AI untuk menyelesaikan skripsi dalam 15 menit.

"Kalau begitu caranya, untuk apa kuliah 4 tahun? Biar AI saja yang kuliah," sentilnya tajam.

"Narasi di media sosial bahwa 'kuliah itu scam' akan jadi nyata kalau selama 4 tahun mahasiswa tidak menghasilkan value apa-apa. Habis puluhan juta hanya untuk gelar kosong," tambahnya.

Pesan Pahit namun Realistis untuk Mahasiswa Baru

Kepada para mahasiswa baru UNM, Reza menitipkan pesan yang mungkin terdengar pahit, namun sangat esensial. Ia mendesak mereka untuk keluar dari zona nyaman. IPK tinggi menurutnya, kini bukan lagi jaminan mutlak.

"Ada ironi besar di dunia kerja sekarang, batas usia maksimal 25 tahun, tapi wajib punya pengalaman 2 tahun. Bagaimana bisa punya pengalaman kalau tidak diberi kesempatan?" ungkap Reza.

Solusinya, menurut Reza, adalah memperbanyak networking- satu-satunya hal yang belum bisa digantikan oleh mesin- dan agresif mencari pengalaman magang.

"Ambil kesempatan magang demi bargaining power. Meski di luar sana banyak eksploitasi berkedok internship, carilah yang setidaknya berbayar. Jangan pernah lulus dengan tangan kosong tanpa pengalaman," pesannya.

Sebagai penutup, alumni yang kini menjadi kebanggaan almamaternya ini menyimpan satu harapan besar. Ia ingin melihat adanya program kolaborasi nyata antara alumni dan kampus. "Tujuannya satu, membunyikan alert (peringatan), menyadarkan generasi baru bahwa tantangan ke depan itu gawat. Mereka harus peka sejak dini, agar siap bertarung saat waktunya tiba," tuturnya.

Dari tangan yang dulu memegang sapu di gerai ayam goreng, kini jari-jemari Reza menari di atas keyboard, merangkai baris kode dan mengajarkan teknologi masa depan. Sebuah epik tentang bagaimana pendidikan, dipadukan dengan daya juang yang tak pernah padam, benar-benar mampu mengubah arah angin nasib seseorang.

Kisah Reza memberikan gambaran bahwa kesempatan akan selalu datang bagi mereka yang terus berusaha. Bagi generasi mandiri yang ingin kuliah sambil kerja, bisa juga mengikuti langkah Reza mengambil kuliah kelas karyawan di Universitas Nusa Mandiri yang terkenal sebagai Kampus Digital Bisnis. Sejatinya, masa depan milik mereka yang terus berusaha mengejarnya. Informasi lebih lanjut bisa kunjungi laman https://nusamandiri.ac.id/.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |