REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tim peneliti Situs Gunung Padang baru saja merampungkan penelitian terbarunya. Ada beberapa temuan menarik, kesimpulan terbaru, dan hasil konservasi situs yang bisa diungkap. Republika mewawancarai Dr Ali Akbar, ketua Tim Kajian dan Pemugaran Situs Cagar Budaya Peringkat Nasional Gunung Padang, Selasa (13/1/2026) di ruang kerjanya di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Abe, begitu sapaan Ali Akbar, mengungkapkan, "Gunung Padang bukan sekadar situs pemujaan, ada fungsi lain."
Situs Gunung Padang, terletak di Cianjur, adalah sebuah punden berundak yang terletak di lereng gunung. Situs ini sudah ditemukan sejak zaman penjajahan Belanda, dan baru serius diteliti sejak 1970-an. Yang benar-benar unik dari situs ini adalah bebatuan yang disusun di seluruh situs, baik di permukaan maupun di dalam gunungnya. Bentuk batuan itu lonjong, persegi empat, pakar geologi kerap menyebutnya sebagai columnar joint, yang memang formasi alamiah.
Warga sekitar yang membangun situs kemudian memanfaatkan bongkahan columnar joint itu. Disusun bertumpuk-tumpuk menjadi fondasi, tangga, maupun diberdirikan menjadi semacam dinding ruangan. Pada 2013, Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Andi Arief mendadak berminat khusus meneliti situs ini. Andi Arief membentuk tim lintas sektor meneliti Gunung Padang selama beberapa waktu. Kesimpulan tim inilah yang kemudian bikin gempar, karena disebut sebagai piramida, merupakan situs yang lebih tua dari piramida di Mesir, dan memiliki ruang di dalam bukit nya.
Di era Presiden Joko Widodo, penelitian di Gunung Padang sempat terhenti. Namun pemanfaatan Gunung Padang sebagai tempat wisata budaya makin masif. Publik datang dari berbagaid daerah, menggunakan kereta, dengan bus pariwisata, hingga touring dengan motor. Ekonomi warga sekitar Gunung Padang pun bergeliat.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon sejak awal dilantik memang menunjukkan minat ke Gunung Padang. Fadli sempat mengunjungi situs tersebut pada Desember 2024. Pada Februari, Menbud mengumpulkan peneliti dari berbagai bidang ilmu, termasuk yang pro dan kontra untuk membahas masa depan penelitian dan konservasi Situs Gunung Padang. Baru pada Agustus, Menbud membentuk tim khusus untuk penelitian 2025.
Apa yang jadi tujuan penelitian kali ini? Abe menjawab ada dua: Ekskavasi untuk menemukan lapisan budaya lain yang lebih tua dan konservasi situs. Abe mengakui kondisi situs rawan longsor, sehingga harus dilakukan pemeliharaan khusus untuk memperpanjang usianya. "Kita cari bagian-bagian yang rentan, (batuan) sudah mulai jatuh, roboh, di bagian bawah dan samping," kata Abe, memaparkan.
Secara khusus Abe menunjukkan bahwa bagian samping Gunung Padang dari tangga di teras terbawah, masuk kategori rawan longsor. Kemudian, di teras 5, teras paling atas juga dilakukan konservasi bentuk ruangannya. Hal ini dilakukan dengan membandingkan kondisi teras 5 sekarang dengan foto-foto awal penemuan situs mulaidari 1930-an, 1970-an, 1980-an.
Apakah itu berarti ada perubahan di teras 5? Abe menjawab, "Cukup banyak perubahannya." Karena apa? "(Salah satunya) karena hujan, lalu ada gempa juga, dan longsor," kata dia lagi.
Mengacu pada laporan Peninggalan Tradisi Megalitik di Daerah Cianjur, Jawa Barat, yang diterbitkan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada 1985, disebutkan: Teras 5 Gunung Padang terletak di bagian paling ujung di sebelah tenggara dan merupakan teras tertinggi. Diduga teras ini tempat paling suci, tempat upacara yang paling sakral dilakukan. Pada teras ini ditemukan bangunan-bangunan kecil yang merupakan tumpukan monolit. Oleh arkeolog Belanda NJ Krom tumpukan monolit ini diduga kuburan. Ada lima bangunan di teras ini, dan puluhan balok batu yang sukar diidentifikasi sebagai bangunan.
Meski demikian, Abe memastikan situs saat ini belum ditutup. Situs Gunung Padang tetap terbuka untuk umum. Warga silakan berwisata ke situs. Tahun ini, tim peneliti rencananya akan meneruskan konservasi teras, dua sisi gunung, serta ingin ada studi banding ke luar negeri.
.png)
3 hours ago
4















































