Ketika Peduli Terasa Melelahkan: Mengenal Empathy Burnout pada Orang Terdekat

2 hours ago 1

Image Sabrina Qoulan

Info Sehat | 2026-06-21 00:47:41

Pernahkah Kamu merasa sangat lelah, bukan karena aktifitas seharian atau kerja semalaman, melainkan karena terlalu banyak mendengarkan keluh kesah orang terdekat? Atau mungkin Kamu mendadak merasa "hampa" dan tidak peduli lagi ketika orang terdekat Kamu menceritakan masalahnya yang bertubi-tubi itu?

Sumber: Pixabay/Shlomaster

Jika iya, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri dan menganggap diri Kamu jahat. Ketika peduli sudah terasa melelahkan, bisa jadi Kamu sedang mengalami fenomena psikologis yang dikenal sebagai empathy burnout atau kelelahan empati. Berbeda dengan kejenuhan belajar dan kerja, burnout jenis ini terasa jauh lebih menguras emosi karena terjadi di tempat di mana kita seharusnya merasa aman dan nyaman.

Ketika Tangki Empati Mulai Kering

Empati merupakan perekat hubungan kita dengan orang-orang tercinta. Namun, layaknya baterai, energi emosional kita untuk orang lain memiliki batas. Ketika kapasitas itu dipaksakan melebihi batasnya, rasa peduli yang tadinya tulus perlahan berubah menjadi beban yang melelahkan. Secara ilmiah, empathy burnout digambarkan oleh Charles Figley sebagai konsekuensi emosional karena terlalu peduli pada orang lain, atau yang biasa disebut the cost of caring.

Dalam lingkungan sosial, fenomena ini terjadi karena Kamu terlalu banyak menyerap emosi negatif dari orang yang Kamu sayangi tanpa jeda. Akhirnya, tubuh dan pikiran Kamu merasa lelah dan melakukan shutdown otomatis sebagai sinyal bahwa rasa peduli Kamu telah mencapai titik jenuh.

Mengapa Peduli Bisa Begitu Melelahkan?

Empathy burnout bukan cuma dialami oleh mereka yang bekerja melayani masyarakat loh. Faktanya, banyak remaja dan dewasa muda mengalaminya tanpa sadar, terutama di era media sosial dan budaya selalu available seperti sekarang.

Di lingkungan pertemanan atau organisasi, ada situasi ketika seseorang menjadikan kita “rumah” untuk semua masalahnya. Awalnya kita merasa dibutuhkan dan senang bisa membantu. Namun, lama-lama hubungan itu terasa melelahkan karena isinya hanya tentang keluh kesah tanpa ruang timbal balik. Kita jadi takut membuka chat, malas membalas telepon, atau merasa cemas setiap kali mereka datang membawa cerita baru.

Bahkan realitanya empathy burnout juga terjadi di dalam keluarga, kondisi ini bahkan bisa lebih berat. Salah satu contohnya yaitu anak yang harus jadi penengah, pendengar, sekaligus sandaran emosional keluarga sering membuat seseorang tumbuh dengan kebiasaan memendam lelahnya sendiri. Lama-lama, hidup terasa seperti memikul beban banyak orang sekaligus, tanpa pernah benar-benar punya ruang untuk istirahat.

Yang paling berbahaya, semua itu sering dianggap normal.

Alarm Tubuh yang Sering Diabaikan

Ketika rasa peduli mulai berubah menjadi kelelahan, gejalanya sering kali tertutup oleh rasa bersalah. Kelelahan empati tidak datang secara mendadak, melainkan merayap pelan melalui tanda-tanda yang sering kita abaikan. Gejala mental yang ada diantaranya yaitu munculnya rasa hampa, sinis, mati rasa emosional (apathy) , serta perasaan sedih dan ketidakberdayaan yang mendalam saat mendengarkan masalah orang lain. Kamu juga bisa mengalami kenaikan kecemasan yang tinggi.

Memulihkan Diri dan Menjaga Batas Emosi

Jika Kamu mulai merasakan beban emosional yang berat dalam hubungan personal, ingatlah instruksi keselamatan di pesawat terbang: “Kenakan masker oksigen Kamu sendiri sebelum membantu orang lain”. Kamu tidak bisa terus-menerus memberi dari cangkir yang kosong.

Salah satu kunci utama untuk memulihkan diri dari kelelahan empati adalah dengan membangun resiliensi atau ketangguhan mental dan mempraktikkan mindfulness.

1. Bangun Resiliensi Psikologis & Mindfulness

Membangun ketangguhan mental (resilience) sangat penting untuk membentengi diri dari empathy burnout. Terapkan mindfulness agar Kamu bisa bersimpati pada teman tanpa harus menjadikan rasa sakit mereka menjadi rasa sakit Kamu sendiri.

2. Terapkan Batasan yang Sehat (Setting Boundaries)

Menetapkan batasan bukan berarti Kamu egois. Pengalaman hidup dan kemampuan berkomunikasi yang baik merupakan faktor pelindung dari burnout.

3. Rutin Melakukan Aktivitas Fisik (Olahraga)

Gaya hidup sehat, termasuk melakukan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur, terbukti secara ilmiah memiliki korelasi kuat dalam menurunkan gejala burnout dan meningkatkan kesejahteraan mental kita. Olahraga membantu otak melepaskan stres emosional yang menumpuk setelah seharian mendengarkan drama kehidupan di sekitar Kamu.

4. Cari Peer Support (Dukungan Sebaya)

Jangan menanggung beban emosional sendirian. Menemukan ruang aman atau kelompok teman lain yang suportif untuk saling berbagi cerita secara sehat bisa membantu memulihkan energi mental Kamu yang terkuras.

___

Peduli pada orang di sekitar kita merupakan bentuk cinta yang indah. Namun, ketika peduli mulai terasa melelahkan, itu adalah tanda bahwa diri Kamu juga sedang meminta haknya untuk diperhatikan. Jangan sampai niat baik Kamu untuk menyalakan lilin bagi orang yang Kamu sayangi, justru membakar habis diri Kamu sendiri.

___

Ditulis Oleh: Sabrina Qoulan dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |