REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dinilai menjadi momentum untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Di tengah meningkatnya biaya transportasi dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), kendaraan listrik dianggap dapat menjadi alternatif untuk menekan beban pengeluaran masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap BBM impor.
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) Budi Setiyadi mengatakan kondisi saat ini membuka peluang bagi pemerintah untuk mempercepat transisi kendaraan listrik yang didukung oleh tingginya penerimaan masyarakat.
"Hasil survei ini menunjukkan masyarakat Indonesia sudah siap, memahami manfaatnya, dan menantikan percepatan transisi energi di bidang transportasi. Efek jangka panjangnya kita akan mengurangi subsidi BBM yang tinggi," kata Budi dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Berdasarkan survei Litbang Kompas pada April 2026 di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar, sebanyak 98 persen responden menyatakan mendukung penggunaan kendaraan listrik di Indonesia. Selain itu, 94,8 persen responden menilai pemerintah perlu mempercepat transisi kendaraan listrik melalui berbagai kebijakan pendukung.
Survei tersebut juga menunjukkan 81,1 persen responden yang belum memiliki kendaraan listrik menyatakan bersedia beralih apabila kendaraan listrik mampu memberikan manfaat ekonomi, kesehatan, dan lingkungan yang lebih baik. Sementara itu, 96,8 persen pengguna kendaraan listrik mengaku bersedia merekomendasikan kendaraan listrik kepada orang lain.
AISMOLI menilai tingginya dukungan publik perlu direspons melalui kebijakan yang mampu menjaga keterjangkauan harga kendaraan listrik dan memperkuat ekosistem industri dalam negeri.
Sebanyak 89,2 persen responden berharap harga kendaraan listrik semakin terjangkau, sementara 95,8 persen mendukung peningkatan produksi kendaraan rendah emisi di dalam negeri. Survei yang sama juga mencatat 73,5 persen responden percaya aspirasi masyarakat dapat mendorong percepatan kebijakan kendaraan listrik.
Selain faktor lingkungan, pertimbangan ekonomi dinilai menjadi alasan utama masyarakat mulai melirik kendaraan listrik. Data Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) menunjukkan biaya operasional sepeda motor listrik sekitar 74 persen hingga 83 persen lebih rendah dibandingkan sepeda motor berbahan bakar minyak.
Sekretaris Jenderal AISMOLI Hanggoro Ananta Khrisna mengatakan, kepastian kebijakan menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan industri kendaraan listrik nasional.
"Industri dan konsumen telah menunjukkan kesiapan yang sama. Kini yang dibutuhkan adalah kepastian kebijakan yang konsisten sehingga investasi dapat tumbuh dan manfaat ekonomi kendaraan listrik bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat," ujar Hanggoro.
Menurut AISMOLI, dukungan kebijakan yang berkelanjutan tidak hanya akan mempercepat adopsi kendaraan listrik, tetapi juga memperkuat industri nasional, memperluas investasi, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM dalam jangka panjang.
.png)
5 hours ago
3
















































