REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perjalanan Salaudeen Menjemput Cahaya Islam
Islam pernah hadir di benak Salaudeen hanya sebagai agama yang identik dengan kebencian, terorisme, dan kekerasan. Pria Yahudi ini awalnya menelan mentah-mentah narasi yang disuguhkan media arus utama tanpa ragu. Namun, siapa sangka bahwa rasa penasaran dan pencarian mendalam akan makna hidup justru mengantarkannya pada sebuah perjalanan spiritual yang mengubah seluruh arah hidupnya selamanya.
Salaudeen tumbuh sebagai remaja biasa yang menjalani hari-hari seperti kebanyakan anak muda lainnya. Ia menikmati kebebasan, berkumpul bersama teman-teman, dan hidup tanpa batasan moral yang jelas. Meski hidup dalam hingar-bingar duniawi, sejak usia sangat muda, ia sebenarnya sudah memiliki satu keyakinan fundamental yang tak tergoyahkan: ia percaya bahwa Tuhan itu nyata.
Keyakinan dasar itulah yang kemudian memantik kegelisahan batin yang terus mengusik kedamaiannya. Ia mulai mempertanyakan hakikat dan tujuan hidup manusia, merenungkan mengapa kita ada di dunia ini jika hanya untuk singgah selama 60 hingga 70 tahun tanpa makna yang abadi.
“Karena saya sudah percaya pada Tuhan, saya mulai berkata pada diri sendiri bahwa agama adalah satu-satunya hal yang memberi tahu Anda bahwa Anda memiliki tujuan hidup. Jadi, saya mulai mencari agama,” ujarnya sebagaimana dikutip dari video yang diunggah kanal Inkofknowledge, Ahad (4/1/2026).
Pencarian itu membawa Salaudeen menelusuri berbagai labirin keyakinan, dan Kekristenan menjadi persinggahan pertamanya. Ia membaca Alkitab dan mencoba meresapi ajaran-ajarannya, namun ia justru menemukan berbagai kontradiksi yang membuatnya didera keraguan besar. “Sejak itu, saya langsung memutuskan bahwa ini pasti bukan berasal dari Tuhan,” ucapnya mengenang kekecewaan kala itu.
Ia lantas beralih mempelajari Yudaisme, agama yang lebih dekat dengan latar belakangnya. Beberapa ajaran di dalamnya terasa cukup masuk akal dan memberikan ketenangan sementara. Ia mulai mempraktikkan ritualnya, rutin mendatangi sinagoge, dan aktif berdiskusi dengan komunitas setempat.
Namun, di sanalah ia justru membentur tembok eksklusivitas yang menyesakkan. Ia diberi tahu oleh komunitasnya bahwa seseorang harus terlahir sebagai Yahudi untuk benar-benar diterima seutuhnya dan memperoleh jaminan keselamatan di akhirat.
"Namun menurut saya, jika Tuhan memiliki agama dan memberikannya kepada umat manusia, agama itu tidak mungkin hanya untuk kelompok orang tertentu. Agama sejati haruslah bisa diterima oleh semua orang tanpa terkecuali," tegasnya dalam hati.
Sementara itu, Islam masih dipandangnya dengan penuh prasangka dan ketakutan. Baginya, Islam hanyalah apa yang selama ini dicitrakan media sebagai agama kemarahan. Hingga suatu hari, karena didorong rasa ingin tahu yang besar, ia mengetikkan sebuah pertanyaan sederhana di mesin pencari Google: "Agama apa yang paling cepat berkembang di dunia?"
Jawabannya muncul seketika dan sangat mengejutkan: Islam. Salaudeen seketika didera kebingungan yang hebat. Bagaimana mungkin sebuah agama yang ia anggap penuh teror justru menjadi keyakinan dengan pertumbuhan tercepat di kolong langit? Pertanyaan itu terus menggantung hingga takdir mempertemukannya dengan seorang mahasiswa Muslim di kampusnya.
.png)
17 hours ago
3













































