Jalan 116 Km Menuju Gayo Lues Putus Total, Begini Kondisinya Sekarang

5 hours ago 2

Warga melintas di bawah lampu penerangan jalan di lokasi banjir bandang di Desa Uyem Beriring, Teripe Jaya, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Selasa (27/1/2026). Listrik di Desa Uyem Beriring telah pulih sejak sepekan lalu setelah sempat terputus pada akhir November 2025 akibat bencana hidrometeorologi.

REPUBLIKA.CO.ID, ACEH TIMUR – Bencana hidrometeorologi yang menerjang wilayah Aceh pada akhir November 2025 menyisakan kerusakan infrastruktur yang masif. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur mencatat sepanjang 116 kilometer jalan provinsi yang menghubungkan wilayah tersebut hingga perbatasan Kabupaten Gayo Lues mengalami kerusakan parah akibat banjir dan tanah longsor.

Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, mengungkapkan bahwa kerusakan tersebar di 30 titik, mulai dari Kecamatan Peureulak Barat hingga ke pedalaman. "Dua titik di antaranya mengalami kerusakan parah hingga badan jalan putus total," ujar Iskandar pada Rabu (28/1). Selain jalan, empat jembatan vital di Gampong Lokop dan Gampong Peunaron Lama juga dilaporkan rusak berat.

Istilah Gampong sendiri merupakan penyebutan khas masyarakat Aceh untuk tingkatan wilayah terkecil setingkat desa. Berbeda dengan penyebutan "kampung" di daerah lain, kata Gampong memiliki ikatan kultural dan hukum adat yang kuat di Aceh, di mana pemimpinnya disebut Keuchik. Penggunaan istilah ini diatur secara resmi dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) sebagai identitas lokal yang menjaga tatanan sosial masyarakat Serambi Makkah.

Kondisi ini memicu kekhawatiran karena jalan tersebut merupakan akses utama menuju Kabupaten Gayo Lues, sebuah wilayah dataran tinggi yang dikenal sebagai "Negeri di Atas Awan". Berjarak sekitar 450-500 kilometer atau 10-12 jam perjalanan darat dari Kota Banda Aceh, Gayo Lues memiliki kekhasan berupa perkebunan kopi Gayo yang mendunia dan budaya Tari Saman yang telah diakui UNESCO. Pasca bencana November lalu, daerah ini sempat terisolasi karena topografinya yang berbukit sangat rentan terhadap longsoran tanah yang menutup akses logistik.

Mengingat urgensi tersebut, Bupati Iskandar telah menyurati Gubernur Aceh melalui Dinas PUPR Provinsi untuk segera melakukan perbaikan. Ia menegaskan bahwa jalur ini berstatus vital, yang berarti keberadaannya sangat menentukan kelangsungan hidup masyarakat. Tanpa jalur ini, arus mobilisasi orang terhenti, akses kesehatan darurat terhambat, dan pasokan kebutuhan pokok bagi warga pedalaman bisa terputus total.

"Ruas jalan ini adalah nadi perekonomian. Jalur ini digunakan untuk distribusi hasil alam dari Gayo Lues ke wilayah pesisir timur Aceh dan sebaliknya. Kami menyarankan agar statusnya ditingkatkan menjadi jalan nasional agar percepatan pembangunan lebih terjamin," pungkasnya.

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |