REPUBLIKA.CO.ID,ISTANBUL — Penculikan tentara pendudukan Israel (IDF) terhadap para peserta armada Global Sumud Flotilla yang sedang mengemban misi kemanusiaan untuk menembus blokade Gaza di perairan internasional meninggalkan cerita pilu.
Berdasarkan pengakuan para peserta yang belum lama ini dibebaskan, banyak di antara mereka yang mengaku sudah menduga akan adanya pencegatan. Sebagian mengantisipasi penangkapan, sementara yang lain memperkirakan akan ditahan.
Namun, hanya sedikit yang membayangkan bahwa mereka akan mengalami apa yang kemudian mereka gambarkan sebagai hari-hari penuh kekerasan, penghinaan, dan penyiksaan. Terlebih, setelah pasukan Israel merebut kapal-kapal tersebut di perairan internasional.
Saat ratusan aktivis tiba di Istanbul menyusul pembebasan dan deportasi mereka, kesaksian yang muncul dari para dokter, aktivis, dan peserta Global Sumud Flotilla memberikan gambaran yang mengerikan tentang apa yang dilakukan pasukan Israel terhadap lebih dari 400 aktivis dari 40 negara tersebut.
Berbagai kesaksian menggambarkan adanya pemukulan, sengatan listrik, serangan fisik yang parah, dugaan pelecehan seksual, serangan anjing pelacak, pengurungan yang berkepanjangan, hingga penahanan dalam kondisi yang sangat buruk. Meski mereka membeberkan pengalaman pahit yang dialami sendiri, banyak aktivis yang berulang kali menyatakan jika perlakuan itu tak sebanding dengan apa yang telah dialami oleh penduduk Gaza selama ini.
Dilansir dari Palestine Chronicle, beberapa aktivis menegaskan, apa pun yang mereka alami hanyalah sebagian kecil dari realitas kelam yang terus dihadapi warga Palestina setiap harinya.
Armada Global Sumud Flotilla berangkat dari Turkiye sebagai bagian dari kampanye internasional yang bertujuan untuk menantang blokade yang diterapkan terhadap Gaza. Kampanye tersebut hendak menarik perhatian dunia atas memburuknya kondisi kemanusiaan di wilayah kantong Palestina.
Pasukan Angkatan Laut Israel kemudian mencegat armada tersebut di perairan internasional di sebelah barat Siprus, sebelum akhirnya memindahkan para aktivis menuju Ashdod dan fasilitas-fasilitas penahanan. Lebih dari 420 aktivis kemudian tiba di Istanbul menggunakan maskapai penerbangan Turkiye setelah dideportasi oleh otoritas Israel.
Para peserta menggambarkan situasi kacau yang terjadi segera setelah pasukan Israel menaiki kapal mereka. Seorang dokter asal Australia, Bianca Webb-Pullman, mengatakan, sejumlah proyektil ditembakkan selama proses pencegatan berlangsung."Itu kemungkinan besar bukan peluru tajam, tetapi mereka menembakkan proyektil ke arah kapal kami," ujar dia.
.png)
4 hours ago
3
















































