REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para astronom menemukan bahwa dua jenis planet yang paling banyak ditemukan di luar tata surya, yakni super-Bumi (super-Earth/SE) dan mini-Neptunus (mini-Neptune/MN), ternyata menempuh jalur evolusi yang sangat berbeda. Temuan ini membuka petunjuk baru tentang bagaimana sistem planet terbentuk dan berkembang di alam semesta.
Penelitian tersebut dilakukan oleh tim ilmuwan yang menganalisis data observasi dalam jumlah besar dari Teleskop Spektroskopi Serat Multi-Objek Area Langit Luas China (LAMOST), satelit Gaia milik Eropa, serta teleskop ruang angkasa Kepler. Hasil studi itu telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Science.
Penemuan ini menjadi penting karena sebagian besar exoplanet atau planet di luar tata surya yang ditemukan selama dua dekade terakhir berada dalam kategori yang tidak ditemukan di tata surya kita, yakni super-Bumi dan mini-Neptunus.
Di tata surya, planet-planet berbatu seperti Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars mengisi wilayah bagian dalam. Sementara itu, wilayah luar dihuni oleh planet-planet raksasa gas dan es seperti Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
Namun sejak teleskop Kepler diluncurkan pada 2009, para astronom menemukan ribuan exoplanet yang memiliki ukuran berada di antara Bumi dan Neptunus. Planet-planet tersebut kemudian diketahui terbagi ke dalam dua kelompok besar yang memiliki karakteristik berbeda.
Kelompok pertama adalah super-Bumi, yakni planet yang sedikit lebih besar dibandingkan Bumi dan tersusun terutama dari batuan serta logam. Kelompok kedua adalah mini-Neptunus, yang berukuran lebih besar dan diselimuti lapisan gas tebal seperti versi kecil Neptunus.
Yang mengejutkan, kedua kelompok planet itu ternyata memiliki riwayat perjalanan yang sangat berbeda.
Para peneliti menemukan bahwa super-Bumi cenderung terbentuk melalui proses yang jauh lebih dramatis. Planet-planet ini diduga pernah mengalami gangguan gravitasi kuat, tabrakan raksasa, atau peristiwa dinamis lain yang mengubah orbitnya secara signifikan.
Akibat berbagai peristiwa tersebut, orbit super-Bumi menjadi lebih eksentrik atau tidak beraturan sebelum akhirnya kembali stabil dan membentuk lintasan yang lebih melingkar akibat pengaruh gaya pasang surut gravitasi.
Para ilmuwan menggambarkan super-Bumi sebagai "planet penyintas" yang berhasil bertahan setelah melewati berbagai fase turbulen selama miliaran tahun.
Sebaliknya, mini-Neptunus menunjukkan kisah yang jauh lebih tenang.
Planet-planet ini cenderung berkembang dalam lingkungan orbit yang stabil dan relatif damai. Evolusinya berlangsung secara perlahan dalam jangka waktu panjang, tanpa banyak mengalami gangguan gravitasi besar maupun tumbukan dahsyat.
sumber : Xinhua
.png)
51 minutes ago
1

















































