REPUBLIKA.CO.ID, BANJARMASIN -- Lupakan kesan kusam dan membosankan; bagi Gen Z, museum kini bertransformasi menjadi ruang "lab hidup" di mana sejarah tidak lagi sekadar teks bisu di layar ponsel, melainkan pengalaman sensorik yang aesthetic dan mendalam.
Museum Lambung Mangkurat di Kalimantan Selatan kini diposisikan bukan hanya sebagai gudang peninggalan masa lalu, melainkan pusat pembelajaran inspiratif tempat kreativitas bertemu dengan warisan leluhur. Dengan visualisasi nyata yang jauh lebih "berbicara" daripada buku teks, museum menawarkan petualangan intelektual yang memungkinkan generasi muda memahami identitas mereka melalui cara yang jauh lebih keren dan relevan dengan gaya hidup modern.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, Galuh Tantri Narindra, menegaskan bahwa siswa perlu mengunjungi museum karena fasilitas ini menawarkan pengalaman belajar visual yang tidak bisa digantikan oleh ruang kelas. Di sini, siswa dapat melihat langsung artefak sejarah yang memberikan pemahaman lebih nyata dan mendalam, memperkuat apa yang selama ini hanya mereka imajinasikan lewat literatur.
Kunjungan rutin ke museum juga terbukti mampu membangun kesan emosional yang kuat, seperti yang dialami Tantri saat masa sekolahnya, di mana melihat peninggalan sejarah secara fisik memberikan kepuasan intelektual yang berbeda.
Lebih dari sekadar melihat benda mati, kunjungan ke museum melatih kemampuan berpikir kritis siswa dalam merangkai narasi masa lalu dengan konteks masa kini. Proses observasi langsung ini menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan nasional sejak dini, sehingga masyarakat tidak lagi melihat museum sebagai aset pemerintah semata, melainkan sebagai rumah bersama milik seluruh rakyat. Dengan pembenahan infrastruktur dan peningkatan kreativitas kegiatan yang terus dilakukan, museum dipersiapkan menjadi ruang publik yang dinamis bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan budaya.
Nama "Lambung Mangkurat" sendiri diambil dari sosok tokoh legendaris yang sangat sentral dalam sejarah Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan. Dalam hikayat lokal, Lambung Mangkurat dikisahkan sebagai seorang pemangku kerajaan atau Patih yang memiliki peran besar dalam mendirikan dasar-dasar pemerintahan Kesultanan Banjar. Ia dikenal sebagai sosok yang bijaksana namun juga memiliki kekuatan spiritual yang tinggi, serta menjadi tokoh kunci yang menemukan permaisuri pertama kerajaan, Putri Junjung Buih.
Secara etimologis, nama ini menyimpan makna filosofis yang dalam terkait kepemimpinan dan pengabdian. Sosok Lambung Mangkurat melambangkan keteguhan hati dalam menjaga stabilitas wilayah dan kedaulatan budaya lokal di masa peralihan sejarah. Penggunaan nama tokoh ini untuk museum di Banjarbaru bertujuan untuk menghormati jasa besar sang Patih serta melestarikan semangat kepemimpinannya sebagai identitas masyarakat Banua.
sumber : Antara
.png)
1 month ago
14
















































