Industri Manufaktur Tertekan, Indeks PMI Masuk Fase Kontraksi

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada April lebih dipengaruhi oleh gangguan rantai pasok global.

“Kita melihat divergensi yang sangat jelas antara negara maju dan ASEAN. Amerika Serikat (AS) dan Jepang justru mengalami akselerasi manufaktur karena fenomena safety stock building, sementara ASEAN, termasuk Indonesia, mulai tertekan oleh inflasi biaya dan gangguan rantai pasok,” ujarnya di Jakarta, Senin (4/5/2026).

Data terbaru S&P Global menunjukkan aktivitas manufaktur Indonesia memasuki fase kontraksi dengan PMI turun dari 50,1 pada Maret menjadi 49,1 pada April. Penurunan tersebut menandai kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir dan terjadi di tengah tekanan inflasi yang semakin kuat, baik dari sisi global maupun domestik.

Menurut Fakhrul, tekanan pada sektor manufaktur disebabkan lonjakan biaya input akibat konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga bahan baku serta keterbatasan pasokan.

Hal ini tercermin dari lonjakan inflasi biaya produksi ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir, yang kemudian diteruskan ke harga jual dengan laju tercepat dalam lebih dari satu dekade.

“Ini adalah textbook case dari cost-push inflation. Ketika biaya naik terlalu cepat, produsen tidak punya pilihan selain mengurangi output atau meneruskan harga ke konsumen. Kita melihat keduanya terjadi secara bersamaan di April,” jelas Fakhrul.

Di sisi lain, meski terdapat sedikit peningkatan pada pesanan baru, hal tersebut dinilai belum mencerminkan pemulihan permintaan yang sehat.

“Kenaikan order lebih bersifat front-loading, antisipasi kenaikan harga ke depan, bukan karena permintaan yang benar-benar kuat. Ini penting untuk dibaca secara hati-hati,” tambahnya.

Lebih lanjut, Fakhrul juga menyoroti bahwa pelemahan PMI ini terjadi bersamaan dengan inflasi Indonesia yang tercatat sebesar 2,42 persen secara tahunan (yoy) pada April 2026. Meski masih dalam kisaran target, dinamika di sektor manufaktur menunjukkan adanya potensi tekanan ke depan yang mulai muncul pada harga input.

“Inflasi headline memang masih terlihat terkendali di 2,42 persen, tetapi tekanan di level produsen sudah mulai naik signifikan. Artinya, ada potensi lagging pass-through ke inflasi konsumen dalam beberapa bulan ke depan, terutama akibat pelemahan rupiah,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kondisi ini menciptakan tantangan kebijakan yang tidak sederhana.

“Kita berada di titik yang sensitif. Di satu sisi, sektor riil mulai melemah, tetapi di sisi lain tekanan harga justru meningkat. Ini menuntut respons kebijakan yang lebih presisi, terutama dari sisi moneter dan stabilisasi nilai tukar,” kata Fakhrul.

Dalam konteks regional, Indonesia tidak sendiri. Filipina juga masuk ke zona kontraksi, sementara Vietnam dan Thailand mengalami perlambatan signifikan. Malaysia menjadi satu-satunya negara yang relatif tumbuh, didorong oleh aktivitas penimbunan (stockpiling).

“Ini bukan cerita Indonesia semata, ini cerita ASEAN di tengah dunia yang sedang berubah. Ketika negara maju menimbun barang karena takut inflasi, negara berkembang justru harus menanggung kenaikan harga tersebut,” tutupnya.

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |