Ilmuwan Hong Kong Kembangkan AI untuk Prediksi Cuaca Ekstrem

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Para ilmuwan Hong Kong mengembangkan sistem prakiraan cuaca berbasis kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI). Teknologi ini mampu memprediksi badai dan hujan lebat hingga empat jam sebelumnya.

Temuan tersebut dinilai sebagai kemajuan pesat dibandingkan teknologi sebelumnya. Selama ini, sistem yang tersedia baru mampu memprediksi cuaca ekstrem sekitar dua jam hingga 20 menit sebelum badai dan hujan lebat terjadi.

Para ilmuwan dari Hong Kong University of Science and Technology (HKUST) menyebutkan sistem ini akan membantu pemerintah serta badan penanggulangan bencana merespons cuaca ekstrem secara lebih efektif, seiring meningkatnya intensitas dan frekuensi kejadian akibat perubahan iklim.

“Kami berharap penggunaan AI dan data satelit dapat meningkatkan prediksi cuaca ekstrem sehingga persiapan kami menjadi lebih baik,” kata profesor teknik sipil dan lingkungan HKUST Su Hui, Rabu (28/1/2026), dikutip dari laman Reuters.

Su mengatakan sistem AI tersebut bertujuan untuk memprediksi curah hujan lebat. Temuan teknologi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada Desember lalu.

Model ini menggunakan teknik generative AI dengan menambahkan noise atau gangguan data acak ke dalam data pelatihan. Selama proses pelatihan, sistem AI belajar membalikkan proses tersebut dengan mengenali dan menghilangkan noise, sehingga kembali pada pola data yang mendekati kondisi asli.

Dengan kemampuan tersebut, model menjadi lebih terlatih dalam mengenali pola pembentukan cuaca dan pada akhirnya mampu menghasilkan prakiraan yang lebih akurat. Para ilmuwan HKUST menyatakan sistem ini dikembangkan bersama otoritas cuaca China.

Sistem tersebut akan memperbarui prakiraan cuaca setiap 15 menit. Akurasi prediksinya meningkat lebih dari 15 persen dibandingkan sistem sebelumnya.

Para ilmuwan menilai sistem ini sangat penting karena jumlah badai dan episode musim hujan di Hong Kong serta sebagian wilayah selatan China pada 2025 tercatat lebih banyak dari biasanya. Lembaga pemantau cuaca setempat mencatat Hong Kong mengeluarkan lima peringatan badai sepanjang tahun lalu.

Otoritas observatorium cuaca Hong Kong juga mencatat kota tersebut mengeluarkan peringatan hujan badai pada level tertinggi sebanyak lima kali dalam satu tahun, serta peringatan pada level tertinggi kedua sebanyak 16 kali.

Frekuensi penerbitan peringatan cuaca ekstrem tersebut melampaui catatan sebelumnya dan mencetak rekor baru. Administrasi Meteorologi China dan Observatorium Hong Kong saat ini tengah berupaya memasukkan model ini ke dalam sistem prakiraan cuaca.

Sistem AI ini dinamai Deep Diffusion Model based on Satellite Data (DDMS). Model tersebut dilatih menggunakan data suhu kecerahan inframerah yang dikumpulkan pada 2018–2021 oleh satelit Fengyun-4 milik China. Su menyebut satelit mampu mendeteksi pembentukan awan lebih dini dibandingkan sistem prakiraan cuaca lain seperti radar.

Data tersebut dikombinasikan dengan keahlian meteorologi untuk menangkap evolusi sistem awan konvektif, kemudian divalidasi menggunakan sampel musim semi dan musim panas 2022 dan 2023.

Urgensi pengembangan teknologi berbasis AI semakin nyata seiring meningkatnya dampak ekonomi akibat bencana alam di tingkat global.

Laporan terbaru Gallagher Re menunjukkan kerugian ekonomi langsung akibat bencana alam di seluruh dunia pada 2025 diperkirakan mencapai 296 miliar dolar AS. Sekitar 129 miliar dolar AS ditanggung pasar asuransi swasta dan lembaga asuransi publik.

Rata-rata kerugian tahunan industri asuransi akibat bencana alam dalam lima tahun terakhir meningkat menjadi 155 miliar dolar AS, dipicu perubahan risiko alam, sosial, dan perilaku ekonomi yang membuat bencana semakin mahal.

Laporan tersebut mencatat kejadian ekstrem dan anomali bencana semakin sering terjadi, termasuk di wilayah yang sebelumnya dianggap berisiko rendah.

Meski industri reasuransi masih mampu menyerap kerugian tersebut, kompleksitas bencana menuntut pemahaman yang lebih baik atas keterkaitan risiko fisik dan nonfisik.

Oleh karena itu, pengembangan serta pemanfaatan teknologi analitik baru, termasuk kecerdasan artifisial, dinilai semakin penting untuk meningkatkan ketepatan prakiraan dan komunikasi risiko kepada pemerintah, sektor swasta, dan publik.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |