Oleh: Suryanto, Guru Besar Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Airlangga; dan Bagong Suyanto, Guru Besar Sosiologi FISIP Universitas Airlangga
REPUBLIKA.CO.ID, Isu kesehatan mental anak dan remaja di Indonesia belakangan semakin sering menjadi perhatian publik. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa tekanan psikologis pada generasi muda meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Data survei rumah tangga berskala nasional yang mengukur prevalensi gangguan mental remaja yang dilakukan oleh Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada 2022 menyebutkan satu dari tiga remaja (34,9 persen) atau setara dengan 15,5 juta remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Data ini menjadi pengingat bahwa kesehatan jiwa generasi muda bukan lagi persoalan yang bisa dianggap sepele.
Pemerintah melalui sembilan kementerian dan lembaga pada tanggal 5 Maret 2026 menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang penguatan penanganan kesehatan jiwa anak dan remaja. Kesembilan Kementerian yang menandatangani adalah Kemenko PMK, Kemendukbangga/BKKBN, Kemenkes, Kemendikdasmen, KemenPPPA, Kemendagri, Kemenag, Kemensos, Kemenkomdigi, dan Polri.
Tampaknya, kebijakan ini lahir karena sudah kritisnya anak dan remaja mengalami persoalan. Anak dan remaja mengalami kecemasan, depresi, tekanan emosional, hingga kasus bunuh diri. Fenomena ini menjadi peringatan bahwa kesehatan mental anak tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan kecil atau sekadar masalah individu. Kebijakan lintas kementerian ini menunjukkan satu hal penting bahwa kesehatan jiwa anak adalah persoalan bersama, bukan hanya urusan dokter atau psikolog, tetapi juga berkaitan dengan keluarga, pendidikan, lingkungan sosial, bahkan budaya masyarakat.
Dalam psikologi perkembangan, Urie Bronfenbrenner (1990-an) yang menyusun Bioecological Model of Human Development menyatakan bahwa perkembangan anak tidak hanya ditentukan oleh faktor biologis atau psikologis individu, tetapi juga oleh lingkungan sosial yang saling berlapis—mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga kebijakan negara. Jika salah satu lapisan tersebut tidak berfungsi dengan baik, maka kesejahteraan psikologis anak juga akan ikut terganggu.
Kondisi sosial saat ini menunjukkan bahwa anak dan remaja tumbuh di tengah-tengah perubahan sosial yang sangat cepat. Tulisan Alvin Toffler (1970) yang berjudul Future Shock menyatakan bahwa perubahan yang cepat dapat menimbulkan: kecemasan, kebingungan identitas, stres psikologis dan ketidakstabilan emosi.
Munculnya teknologi digital yang berkembang pesat berdampak semakin cepatnya perubahan sosial. Di satu sisi, perubahan ini membawa banyak peluang pada anak dan remaja, namun sebaliknya juga menghadirkan tekanan yang tidak ringan bagi perkembangan mental anak.
Paparan media sosial, bagi anak dan remaja tidak sekedar menjadi bahan untuk membangun identitas diri melalui perbandingan sosial, melainkan juga menjadi media yang mampu membuat tekanan pribadi menjadi semakin kuat. Ketika anak melihat orang lain sukses dan populer serta lebih bahagia, lalu anak melakukan perbandingan sosial dengannya. Apabila anak termotivasi untuk bangkit tidak masalah, Namun bila yang terjadi sebaliknya, maka akan menyebabkan persoalan kesehatan mental yang serius.
Psikolog sosial Leon Festinger (1954) menyebut fenomena ini sebagai social comparison, yakni kecenderungan manusia menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Dalam dunia digital, perbandingan sosial terjadi tiap saat. Anak-anak yang belum memiliki kematangan emosional, ketika melihat orang sukses saja dapat dengan mudah merasa tertinggal, tidak cukup baik, bahkan gagal.
Namun kecemasan generasi muda tidak hanya dipengaruhi oleh teknologi. Perubahan dalam kehidupan keluarga juga memainkan peran penting. Di tengah tuntutan ekonomi dan kesibukan pekerjaan, banyak orang tua memiliki keterbatasan waktu untuk berinteraksi secara mendalam dengan anak. Kelekatan emosional yang seharusnya menjadi fondasi perkembangan mental psikologis sering kali tergantikan oleh kehadiran gawai atau fasilitas materi lainnya.
Padahal, dalam perspektif psikologi perkembangan, hubungan emosional antara anak dan orang tua merupakan pondasi penting bagi kesehatan mental. Psikolog John Bowlby melalui teori kelekatan (attachment theory) menjelaskan bahwa anak yang memiliki hubungan emosional yang aman dengan orang tuanya akan tumbuh dengan rasa percaya diri dan stabilitas emosi yang lebih kuat.Lingkungan sekolah juga menjadi faktor penting. Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu pengetahuan dan
teknologi, tetapi juga menjadi ruang sosial tempat anak belajar mengenal dirinya dan orang lain. Interaksi sosial dengan teman sebaya, interaksi dengan guru, serta suasana psikologis di sekolah sangat memengaruhi kesejahteraan psikologis siswa. Jika sekolah gagal menjadi ruang yang aman secara emosional—misalnya karena adanya perundungan atau tekanan akademik yang berlebihan, maka anak dapat mengalami tekanan psikologis yang serius. Karena itu, kesehatan mental anak seharusnya menjadi bagian dari perhatian utama dalam sistem pendidikan.
Dalam perspektif Islam, kesejahteraan jiwa memiliki tempat yang sangat penting. Alquran mengingatkan bahwa ketenteraman hati merupakan kebutuhan mendasar manusia. Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini mengingatkan bahwa ketenangan jiwa tidak hanya berkaitan dengan kondisi psikologis, tetapi juga dengan dimensi spiritual manusia. Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan seperti sekarang, nilai-nilai spiritual dapat menjadi sumber kekuatan batin bagi anak maupun orang tua.
Karena itu, upaya menjaga kesehatan mental anak tidak cukup hanya melalui pendekatan medis atau psikologis. Ia juga memerlukan pendekatan moral, spiritual, dan sosial. Keluarga perlu menjadi model dan sekaligus menjadi ruang kasih sayang dan dialog yang terbuka. Sekolah perlu menciptakan lingkungan yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga menumbuhkan empati dan karakter. Sementara itu, masyarakat menjadi tempat yang menyejukkan untuk berprestasi dan tumbuh menjadi matang.
Kebijakan kesehatan jiwa anak yang baru disepakati pemerintah patut diapresiasi sebagai langkah awal yang penting. Namun kebijakan tersebut tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif. Tantangan terbesar adalah memastikan bahwa kebijakan ini benar-benar diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari—di rumah, di sekolah, dan di masyarakat. Pada akhirnya, anak-anak bukan hanya masa depan bangsa, tetapi juga amanah yang harus dijaga bersama. Menjaga kesehatan jiwa mereka berarti menjaga harapan, kemanusiaan, dan masa depan Indonesia.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
.png)
1 hour ago
2
















































