
Oleh: KH Bachtiar Nasir, Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perang hari ke-54 antara Amerika Serikat dan Iran belum juga menunjukkan jalan keluar yang meyakinkan. Donald Trump menyatakan akan melanjutkan gencatan senjata sampai Iran siap dengan proposal dan negosiasi barunya. Namun di saat yang sama, blokade Selat Hormuz tetap dijalankan sebagai bargain Amerika terhadap Iran. Teheran pun tetap pada posisinya: negosiasi hanya akan berlanjut apabila blokade terhadap Hormuz dibuka.
Inilah wajah paradoks diplomasi hari ini. Di satu sisi, gencatan senjata dipertahankan sebagai tanda bahwa pintu dialog masih terbuka. Tetapi di sisi lain, instrumen tekanan paling vital tetap dijaga. Maka yang lahir bukanlah kepercayaan, melainkan kebuntuan yang dipelihara.
Amerika ingin Iran datang ke meja perundingan dalam posisi terdesak, sementara Iran menolak masuk ke ruang negosiasi dengan kepala tertunduk.
Harga dari konflik yang berjalan lambat namun mematikan ini sangat besar. Sejak awal perang pada 28 Februari hingga 21 April, ketegangan AS-Iran telah memakan korban di Iran sebanyak 3.375 orang meninggal dan lebih dari 26.500 lainnya berstatus injured. Sementara itu, dari pihak Amerika Serikat, 13 anggota militer meninggal dan 200 lainnya injured.
Data ini merupakan laporan dari Iran Health Ministry, National Health, and Interior Ministries. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa walaupun perang tidak selalu hadir dalam bentuk serangan besar setiap hari, ia terus bekerja sebagai mesin kelelahan, penguras nyawa, dan penghancur stabilitas.
Namun perlambatan di front Iran tidak berarti kawasan sedang menuju tenang. Sebaliknya, di sisi lain, konflik Lebanon-Israel kembali menunjukkan bahwa gencatan senjata di Timur Tengah sering kali hanya menjadi jeda yang rapuh, bukan komitmen yang sungguh-sungguh dijaga. Setelah adanya perjanjian gencatan senjata 10 hari sejak 17 April 2026, situasi justru kembali memanas.
Per 21 April, laporan Al Jazeera menyebut Israel mengirimkan serangan udara melalui pesawat tanpa awak ke Bekaa Valley, Lebanon, yang menewaskan 1 orang dan melukai 2 orang. Melihat serangan ini, Hezbollah bereaksi dengan mengirimkan serangan roket kepada Israel. Tetapi setelah dibalas, Israel justru menuntut Hezbollah atas pelanggaran gencatan senjata.
Di sinilah watak politik Israel kembali terlihat sangat telanjang. Ketika Israel menyerang lebih dulu, ia dapat membungkus tindakannya dengan istilah “antisipasi”. Tetapi ketika serangan itu dibalas, ia segera mengadopsi bahasa korban: seolah-olah pihak lainlah yang lebih dulu merusak ketenangan.
Pola ini bukan hal baru. Yang berulang bukan hanya serangannya, melainkan juga cara membingkai serangan itu. Israel tampak sangat terbiasa memulai tekanan, lalu menuduh pihak yang membalas sebagai sumber kekacauan.
Karena itu, persoalan kawasan hari ini bukan hanya soal perang, tetapi juga soal krisis kredibilitas. Jika suatu pihak dapat terus mengklaim diri sebagai penjaga keamanan sambil berulang kali memukul lebih dulu, maka pertanyaan yang harus diajukan bukan lagi siapa yang paling keras berbicara tentang damai, tetapi siapa yang paling bisa dipegang janjinya.
Dalam konteks ini, Israel makin sulit dipercaya. Ucapannya tentang gencatan senjata, stabilitas, dan keamanan terlalu sering runtuh di lapangan begitu ia merasa masih punya ruang untuk menekan lawan.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
.png)
6 hours ago
6
















































