Ekonom UNG Soroti Tantangan Ekonomi Indonesia di 2026

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, GORONTALO, – Ekonom Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Muh Amier Arham, memperingatkan tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia pada tahun 2026. Dalam pernyataannya, Senin (12/1), Amier menyoroti potensi stagnasi pertumbuhan ekonomi, kerentanan pasar tenaga kerja, dan tekanan fiskal yang dapat memengaruhi perjalanan fiskal tahun tersebut.

Menurut Amier, pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2025 diperkirakan tertahan di sekitar lima persen, jauh dari target delapan persen pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2029. Guncangan ekonomi semakin terasa dengan bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025, yang menyebabkan kerugian sekitar Rp59 triliun.

Amier menekankan bahwa tanpa percepatan pertumbuhan, penyerapan tenaga kerja akan tertinggal jauh dari laju pencari kerja baru, di mana setiap tahun terdapat sekitar 3,5 juta orang yang memasuki pasar tenaga kerja. Namun, elastisitas ekonomi Indonesia hanya mampu menyerap 200 ribu pekerja untuk setiap satu persen pertumbuhan ekonomi.

Data dari Satu Data Kementerian Tenaga Kerja menunjukkan peningkatan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan 79.302 PHK terjadi sepanjang Januari hingga November 2025. Amier mengingatkan bahwa penurunan angka pengangguran yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) perlu dilihat lebih hati-hati, karena mayoritas masyarakat bekerja di sektor informal yang tidak menyediakan jaminan pendapatan layak maupun perlindungan sosial.

Fenomena Deindustrialisasi Prematur

Amier juga menyoroti fenomena deindustrialisasi prematur di mana sejumlah industri pengolahan padat karya mengalami kontraksi, seperti industri alas kaki, karet, dan perabotan. Akibatnya, lapangan kerja kembali terkonsentrasi pada sektor pertanian yang memiliki produktivitas lebih rendah.

Di sisi lain, meskipun kemiskinan nasional sedikit menurun dari 8,57 persen menjadi 8,47 persen, kemiskinan perkotaan meningkat akibat lonjakan harga pangan, terutama beras.

Dari sisi moneter, Amier memprediksi nilai tukar rupiah akan tetap melemah sepanjang 2026, berdampak pada tingginya biaya impor dan beban bunga utang. Ruang Bank Indonesia untuk meredam gejolak pasar juga semakin terbatas, sementara minat ekspansi kredit perbankan menurun.

Resiliensi Kebijakan dan Ketahanan Ekonomi

Amier menegaskan perlunya perbaikan tata kelola ekonomi secara menyeluruh, termasuk penegakan hukum pengelolaan sumber daya alam (SDA), pembenahan birokrasi, dan belanja negara yang lebih fokus pada produktivitas jangka panjang. Dia juga menyoroti pentingnya resiliensi kebijakan fiskal dan kesiapsiagaan terhadap bencana, mengingat sepanjang 2025 tercatat 3.176 bencana dan angka itu diperkirakan tidak akan berkurang.

“Indonesia masih memiliki peluang. Tetapi peluang itu hanya muncul jika negara menyiapkan sistem yang kokoh menghadapi ketidakpastian,” tambahnya.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |