REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan bahwa tradisi Dugderan bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan simbol kuat akulturasi budaya dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
Tradisi ini dijadwalkan berlangsung lebih megah pada Senin (16/2) mendatang dengan mengusung tema "Bersama dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi".
"Dugderan adalah simbol kebersamaan warga Semarang. Kami ingin tradisi ini menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk menikmati kekayaan budaya sekaligus mempererat persaudaraan. Ini adalah momentum penguatan identitas kota yang inklusif," ujar Agustina di Semarang, Jumat (13/2).
Pawai Lintas Budaya dan Ikon Religi
Perayaan tahun ini dinilai sangat istimewa karena pelaksanaannya berdekatan dengan perayaan Imlek. Hal ini mempertegas jati diri Semarang sebagai kota toleran melalui rute karnaval yang melintasi berbagai ikon religi lintas budaya. Untuk menjaga kekhidmatan, prosesi dibagi menjadi dua sesi utama.
Sesi pertama adalah Pawai Budaya Dugder yang melibatkan seluruh elemen masyarakat dan komunitas seni, bergerak dari Balai Kota menuju kawasan Alun-Alun Kauman. Selanjutnya pada sesi kedua, perjalanan dilanjutkan oleh rombongan bus Wali Kota menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) melalui Jalan Wahid Hasyim tanpa iringan parade.
Edukasi bagi Generasi Muda
Selain panggung utama, keberlanjutan tradisi ini turut menyasar generasi muda melalui Kirab Dugder Anak. Dengan rute dari SD Marsudirini menuju Thamrin Square, keterlibatan ribuan pelajar dan pegiat seni menjadi bukti bahwa nilai historis dan spiritual Dugderan tetap relevan di tengah modernisasi.
"Jika generasi muda mencintai akar budayanya sejak dini, mereka akan tumbuh dengan rasa bangga terhadap identitas kotanya. Edukasi melalui pengalaman langsung seperti ini sangat penting bagi keberlanjutan warisan leluhur kita," tambah Wali Kota.
Magnet Wisata Internasional
Pemerintah Kota Semarang berharap Dugderan 2026 mampu menjadi magnet wisata budaya yang menarik kunjungan wisatawan nasional maupun mancanegara.
Dengan integrasi nilai religi, seni, dan toleransi yang kental, festival ini menjadi pernyataan tegas bahwa Semarang adalah rumah bagi keberagaman yang harmonis. "Dugderan ini sejatinya adalah milik semua warga," pungkas Agustina.
sumber : Antara
.png)
2 weeks ago
10
















































