REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Peringatan keras kembali dilontarkan Amerika Serikat terhadap pengembangan senjata strategis Rusia. Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Pengendalian Senjata dan Keamanan Internasional, Thomas DiNanno, menilai sistem persenjataan Moskow, khususnya drone bawah air Poseidon dan rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik, telah melampaui batas kewajaran.
"Sistem persenjataan Rusia... semakin keterlaluan, bahkan menurut standar Rusia... sistem kapal selam Poseidon, Burevestnik, rudal jelajah bertenaga nuklir mereka," kata DiNanno dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, tanpa menjelaskan secara rinci parameter yang dimaksud dengan "di luar batas" tersebut, sebagaimana diberitakan Ria Novosti.
Pernyataan ini muncul di tengah konfirmasi Presiden Vladimir Putin pada akhir Oktober 2025 yang mengumumkan keberhasilan uji coba kedua senjata itu. Putin menegaskan bahwa Burevestnik dan Poseidon akan tetap unik dan tiada duanya untuk waktu yang lama, memastikan keseimbangan strategis, keamanan, serta posisi global Rusia selama beberapa dekade mendatang.
Pencipta Tsunami Radioaktif
Poseidon (dikenal di Rusia sebagai 2M39 Status-6) adalah torpedo nuklir otonom bertenaga nuklir yang sering dijuluki "Senjata Kiamat" oleh para analis militer. Berbeda dengan rudal balistik konvensional yang meluncur melalui atmosfer, Poseidon bergerak di bawah permukaan laut pada kedalaman ekstrem hingga 1.000 meter—kedalaman yang sulit dijangkau sistem deteksi bawah air mana pun.
Dimensinya masif, mencapai panjang sekitar 20 meter, menjadikannya torpedo terbesar di dunia. Dengan kecepatan 70 knot (sekitar 130 km/jam), Poseidon jauh lebih cepat daripada kapal selam atau torpedo standar milik negara-negara NATO. Mesin reaktor nuklir internalnya memberikan jangkauan hampir tak terbatas, memungkinkannya melintasi samudra selama berhari-hari untuk mencapai target pesisir lawan tanpa terdeteksi radar konvensional.
Yang membuat senjata ini begitu menakutkan adalah daya ledaknya. Hulu ledak nuklir berkekuatan megaton dirancang untuk menciptakan tsunami radioaktif raksasa di wilayah pesisir target. Ledakan bawah air tidak hanya akan menghancurkan infrastruktur pelabuhan dan pangkalan militer melalui kekuatan mekanis gelombang air, tetapi juga mengontaminasi area luas dengan radiasi mematikan selama puluhan tahun—menjadikan wilayah terdampak tidak dapat dihuni atau digunakan untuk kegiatan ekonomi maupun militer dalam jangka waktu yang sangat lama.
Rusia telah menyiapkan kapal selam khusus, seperti Belgorod (K-329), sebagai platform peluncur utama untuk membawa dan meluncurkan torpedo raksasa ini secara rahasia dari laut dalam. Kemampuan siluman bawah air dan daya hancur massal menjadikan Poseidon sebagai salah satu teknologi militer paling menakutkan yang mengubah peta persaingan kekuatan nuklir abad ke-21.
.png)
10 hours ago
2















































