REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Pusat Pembelaan Tawanan Palestina memperingatkan bahwa nyawa dokter asal Gaza yang ditahan, Dr Marwan al-Hams, kini berada dalam bahaya besar. Direktur rumah sakit lapangan Kementerian Kesehatan Palestina tersebut dilaporkan tidak menerima obat jantung esensial selama berbulan-bulan.
Lembaga tersebut menggambarkan kasus Dr Marwan sebagai bagian dari kampanye sistematis yang menargetkan tenaga medis Palestina. Dalam pernyataan resminya pada Selasa(7/7/2026) seperti dikutip laman Palestine Chronicle, lembaga tersebut mengungkapkan bahwa Dr Marwan telah dideprivasi atau dilarang mendapatkan obat-obatan untuk penyakit jantung kronis yang dideritanya sejak Februari lalu.
Selain itu, ia harus menjalani interogasi yang berkepanjangan, mengalami penurunan berat badan secara drastis, kelalaian medis, nutrisi yang tidak memadai, serta larangan berkomunikasi dengan pihak keluarga.
Perlakuan buruk penjajah Israel dinilai menempatkan sang dokter pada "risiko nyata" kehilangan nyawa. Lembaga itu pun menyerukan intervensi internasional yang mendesak untuk menyelamatkan jiwa sang dokter.
Kelalaian Medis yang Disengaja
Menurut data pusat pembelaan, Marwan telah kehilangan sekitar 20 kilogram berat badannya sejak ditangkap. Bobotnya kini hanya berkisar 69 kilogram. Penurunan drastis tersebut disebabkan oleh tindakan kelaparan sistematis, penyiksaan, dan penolakan perawatan medis secara sengaja.
Pihak lembaga menggambarkan penahanan obat jantung yang menyelamatkan nyawa dari seorang tahanan sebagai bentuk "penyiksaan lambat dan pembunuhan tidak langsung". Kondisi ini diperparah oleh situasi penahanan yang kejam serta ketiadaan pengawasan medis yang memadai.
Melihat kondisi kesehatannya yang terus memburuk, lembaga hak asasi manusia (HAM) tersebut memperingatkan bahwa interogasi segera oleh organisasi medis dan HAM internasional sangat dibutuhkan sebelum semuanya terlambat.
.png)
6 days ago
16













































