REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gelombang kecerdasan buatan tak lagi bergerak di ruang laboratorium atau sekadar menjadi alat bantu produktivitas. Ia mulai masuk lebih dalam, mengubah cara manusia bekerja, mengambil keputusan, bahkan menentukan siapa yang tetap relevan di dunia kerja. Dalam lanskap yang berubah cepat itu, peringatan datang dari pucuk industri teknologi sendiri.
Dario Amodei, salah satu tokoh kunci di balik pengembangan AI generatif, menegaskan bahwa dampak teknologi ini terhadap pekerjaan akan jauh lebih besar dari yang dibayangkan banyak pihak. Ia bahkan memperkirakan, hingga separuh pekerjaan kerah putih tingkat pemula berpotensi hilang dalam beberapa tahun ke depan.
“AI dapat menghapus sebagian besar pekerjaan entry-level di sektor white-collar dalam waktu relatif singkat,” ujar Amodei dalam sejumlah forum dan wawancara publik, menekankan skala perubahan yang tengah berlangsung, sebagaimana diberitakan The Times of India.
Pernyataan tersebut bukan sekadar alarm kosong. Data industri menunjukkan bahwa puluhan ribu pekerja teknologi telah kehilangan pekerjaan dalam beberapa bulan pertama tahun ini, dengan sebagian signifikan dikaitkan dengan otomatisasi dan efisiensi berbasis AI. Fenomena ini menandai pergeseran yang tidak lagi bersifat teoritis, tetapi sudah terjadi di lapangan.
Namun di balik angka-angka tersebut, tersimpan cerita yang lebih sunyi, tentang manusia yang berusaha bertahan di tengah perubahan. Sejumlah profesional berpengalaman yang selama puluhan tahun bekerja di bidangnya kini menghadapi kenyataan baru: pekerjaan lama semakin sulit didapat, sementara tuntutan keterampilan berubah dengan cepat.
Sebagian dari mereka beralih ke peran baru yang bahkan tak pernah ada satu dekade lalu, seperti pelatih data AI. Mereka membantu mesin belajar, mengoreksi kesalahan, dan menyempurnakan respons. Ironisnya, dalam proses itu, mereka sekaligus berkontribusi pada sistem yang suatu hari berpotensi menggantikan peran mereka sendiri.
Bagi sebagian pekerja, transisi ini menjadi jalan bertahan hidup. Namun bagi yang lain, ini terasa seperti penurunan, dari karier mapan dengan pendapatan tinggi menjadi pekerjaan kontrak yang tidak stabil, tanpa jaminan jangka panjang.
Di sinilah letak paradoks AI: ia membuka peluang baru, tetapi juga mempersempit ruang bagi yang tidak siap beradaptasi.
Amodei juga mengingatkan bahwa dampak ini tidak akan terjadi secara perlahan seperti revolusi industri sebelumnya. “Sebagian besar orang belum benar-benar memahami seberapa besar perubahan yang akan terjadi,” ujarnya, menyoroti kesenjangan antara percepatan teknologi dan kesiapan masyarakat.
.png)
2 days ago
10
















































