Bos IEA Ungkap Perang Iran Bikin Dunia Makin Tinggalkan Minyak, Percepat Adopsi Nukir dan EBT

4 hours ago 4

Warga Iran berjalan di depan lukisan raksasa mengilustrasikan kapal di Selat Hormuz yang terpampang di Teheran, Senin (20/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala International Energy Agency (IEA) Fatih Birol menyatakan perang Iran telah mengubah industri bahan bakar fosil secara permanen dan akan mempercepat peralihan menuju energi terbarukan, tenaga nuklir, serta elektrifikasi dengan mengorbankan permintaan minyak. Pernyataan tegas tersebut diungkapkan di tengah krisis minyak yang membuat harga Brent diperdagangkan di atas 105 dolar AS per barel, sementara pasokan fisik masih terbatas.

Dikutip dari Oilprice.com pada Ahad (26/4/2026), Birol mengatakan, kerusakan terhadap kepercayaan pada keamanan bahan bakar fosil bersifat permanen. Negara-negara yang terdampak gangguan di Selat Hormuz akan meninjau ulang seberapa besar risiko geopolitik yang bersedia mereka tanggung dalam sistem energi mereka.

"Persepsi mereka terhadap risiko dan keandalan akan berubah. Pemerintah akan meninjau strategi energi mereka. Akan ada dorongan signifikan terhadap energi terbarukan dan tenaga nuklir serta pergeseran lebih lanjut menuju masa depan yang lebih terelektrifikasi," ujar Birol.

Ia menambahkan, pergeseran tersebut akan "menggerus pasar utama minyak" dan menimbulkan "konsekuensi permanen bagi pasar energi global".

Birol juga mengingatkan Inggris terkait rencana pengeboran di Laut Utara. Menurut dia, langkah tersebut tidak akan memberikan manfaat langsung.

Bahkan, lanjutnya, proyek itu tidak akan menghasilkan minyak dan gas dalam jumlah signifikan selama bertahun-tahun dan "tidak akan memberikan perbedaan berarti terhadap krisis ini", kecuali untuk proyek tiebacks. Pesan bagi Inggris, ekspansi minyak dan gas "mungkin tidak masuk akal secara bisnis".

Sementara itu, JPMorgan berpendapat harga minyak mungkin perlu naik lebih tinggi untuk menekan permintaan. Goldman Sachs memperkirakan produksi minyak di kawasan Teluk turun 57 persen dibandingkan tingkat sebelum perang.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya kekurangan pasokan, bukan bukti bahwa sistem bahan bakar fosil sedang mengalami kemunduran. Birol menyebut krisis saat ini "lebih besar dari gabungan semua krisis terbesar sebelumnya". 

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |