REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga Bitcoin kembali terkoreksi ke kisaran 64.000 dolar AS setelah pasar merespons hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Meski bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50 persen hingga 3,75 persen, arah kebijakan yang lebih ketat memengaruhi ekspektasi pelaku pasar.
Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian mengatakan, pergerakan harga pasca-FOMC merupakan respons yang umum terjadi di tengah perubahan ekspektasi kebijakan moneter global. Menurut dia, volatilitas jangka pendek di pasar kripto masih sangat dipengaruhi sentimen makroekonomi.
“Volatilitas seperti ini bukan sesuatu yang baru bagi pasar aset kripto. Yang terpenting adalah investor memahami bahwa pergerakan harga jangka pendek seringkali dipengaruhi sentimen makro, sehingga keputusan investasi sebaiknya tetap didasarkan pada riset dan strategi yang matang,” ujar Aloysia, Sabtu (20/6/2026).
Sentimen kehati-hatian juga tercermin dari arus dana institusional. Data menunjukkan ETF spot Bitcoin dan Ethereum di Amerika Serikat mencatat arus keluar bersih sebesar 112,8 juta dolar AS setelah pengumuman FOMC. Kondisi ini mengindikasikan sebagian pelaku pasar mengambil posisi lebih defensif.
Aloysia menjelaskan, fase koreksi dapat dimanfaatkan investor untuk mengevaluasi kembali strategi investasi, termasuk tujuan, profil risiko, dan alokasi aset.
“Setiap periode volatilitas dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali tujuan investasi, profil risiko, dan strategi yang digunakan,” kata dia.
Selain faktor jangka pendek, ia menilai investor perlu memperhatikan aspek fundamental seperti tingkat adopsi aset digital, perkembangan teknologi blockchain, serta partisipasi investor jangka panjang.
Dalam pertemuan tersebut, The Fed juga menghapus forward guidance atau panduan arah suku bunga ke depan. Kebijakan ini membuat pasar lebih bergantung pada data ekonomi terkini seperti inflasi, tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi dalam membentuk ekspektasi.
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh juga mengumumkan pembentukan lima gugus tugas yang akan mengkaji berbagai aspek kebijakan, termasuk komunikasi, neraca keuangan, sumber data, kerangka pengendalian inflasi, serta dampak kecerdasan buatan terhadap perekonomian.
Menurut Aloysia, masuknya isu produktivitas dan teknologi dalam kajian kebijakan moneter menunjukkan adanya perubahan pendekatan dalam membaca dinamika ekonomi global.
“Pelaku pasar juga perlu melihat perkembangan ini sebagai bagian dari gambaran yang lebih besar, tidak hanya bereaksi terhadap pergerakan harga harian,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam kondisi pasar yang fluktuatif, investor perlu menerapkan manajemen risiko, diversifikasi, serta strategi investasi bertahap untuk menjaga stabilitas portofolio.
.png)
1 hour ago
1

















































