Dr Otong Sulaeman, Rektor STAI Sadra Jakarta hadir dalam penghormatan terakhir jenazah Asy-syahid Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya di Musala Besar Teheran.

Oleh: Dr Otong Sulaeman, Rektor STAI Sadra Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Matahari pagi belum muncul di kota Teheran, pada hari Jumat (5/6/2026), saat saya dan sejumlah tamu undangan dari Indonesia turun dari pesawat.
Dalam keadaan masih lelah akibat perjalanan panjang, tiba-tiba kami diberi kabar bahwa kami diberi kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah Asy-syahid Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya di Musala Besar Teheran.
Rangkaian acara penghormatan terakhir di ruang utama Musala, mendekat langsung ke lima peti jenazah, sebenarnya ditujukan untuk tamu-tamu utusan resmi kenegaraan.
Acara resmi tersebut akan diadakan beberapa jam kemudian. Ada tebersit lega dalam hati karena meskipun pemerintah tidak mengirimkan utusan khusus yang seharusnya hadir di ruangan itu, setidaknya, ada kami -warga biasa- yang bisa menjadi ‘wakil’ Indonesia.
Di halaman luar Musala, massa dari berbagai titik kota di Iran sudah mulai berdatangan. Semakin siang, yang datang semakin banyak. Media Iran menyebut jumlah warga yang datang dari Jumat hingga Ahad ke Musala Teheran mencapai jutaan orang.
Mereka datang dengan diatur keluar masuk, hanya boleh menetap di Musala lima belas menit, lalu keluar memberikan kesempatan kepada yang lain.
Dari Teheran, jasad kelima syuhada itu akan dibawa dan disholatkan di kota Qom, lalu Najaf, Karbala (Irak), dan kembali ke Iran, untuk dimakamkan di kota Mashad.
Hitungan total massa yang menghadiri prosesi pemakaman selama enam hari ini mungkin bisa mencapai 30 juta. Ini angka perkiraan yang disampaikan pejabat Iran yang dikutip media.
.png)
5 hours ago
3













































