Australia Bangun Benteng Rudal Rp910 Miliar, F-35 Jadi Kunci Indo-Pasifik

4 days ago 17

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Australia memperkuat fondasi industri pertahanannya dengan memulai pembangunan Ekosistem Pertahanan Udara dan Rudal Terpadu Nasional (Integrated Air and Missile Defence/IAMD) di Williamtown, wilayah Hunter. Proyek yang digarap Lockheed Martin Australia itu bernilai 85,9 juta dolar Australia atau sekitar Rp910 miliar, setara 59,3 juta dolar AS atau sekitar Rp970 miliar.

Pembangunan fasilitas tersebut secara resmi dimulai melalui upacara peletakan batu pertama pada 3 Juli 2026 yang dihadiri Menteri Industri Pertahanan Australia, Pat Conroy. Kontraktor lokal, Built, akan segera memulai pekerjaan konstruksi, sementara fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.

Dalam keterangannya, Lockheed Martin Australia menyatakan kawasan baru tersebut dirancang untuk mendukung sistem IAMD generasi berikutnya sekaligus memperkuat kemampuan pertahanan berdaulat Australia. Fasilitas itu juga akan menjadi pusat dukungan dan pemeliharaan tingkat lanjut bagi armada pesawat tempur F-35 milik Australia, sekaligus melayani operator F-35 lain di kawasan Indo-Pasifik.

Kompleks tersebut akan dilengkapi zona khusus untuk perakitan perangkat keras, integrasi sistem, validasi, pengujian menyeluruh (end-to-end testing), hingga pengembangan dan pemeliharaan perangkat lunak yang dikelola secara mandiri di dalam negeri. Selain itu, pemerintah Australia juga menyiapkan program pelatihan kemampuan IAMD dengan fokus pada Australian Joint Air Battle Management System, sistem komando yang menjadi tulang punggung operasi pertahanan udara terpadu.

Fasilitas baru ini juga akan menjadi basis bagi tim pemeliharaan F-35 Lockheed Martin Australia, yang disebut sebagai operasi dukungan F-35 internasional terbesar perusahaan tersebut. Infrastruktur tambahan, termasuk kemampuan perbaikan kanopi pesawat secara lokal, disiapkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap layanan pemeliharaan di luar negeri.

Menurut Lockheed Martin, keberadaan sistem diagnostik, perbaikan, dan pengujian di dalam negeri akan meningkatkan kesiapan operasional Angkatan Udara Kerajaan Australia (Royal Australian Air Force/RAAF) sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok pertahanan nasional.

Perusahaan itu juga menilai proyek tersebut akan semakin mengukuhkan posisi Australia sebagai salah satu simpul penting dalam ekosistem F-35 dan sistem pertahanan udara Indo-Pasifik serta memperbesar kontribusinya dalam rantai pasok global industri pertahanan.

CEO Lockheed Martin Australia dan Selandia Baru, Jeremy King, mengatakan pembangunan kawasan tersebut tidak hanya memperkuat kemampuan pertahanan nasional, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi wilayah Hunter.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |