REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Amerika Serikat (AS) membatalkan latihan pendaratan amfibi berskala besar bersama Korea Selatan yang dijadwalkan berlangsung September 2026. Keputusan tersebut menjadi tanda terbaru bahwa perang berkepanjangan dengan Iran mulai menyedot personel dan aset militer Washington dari Asia, kawasan yang justru menjadi pusat persaingan strategis AS dengan China sekaligus garis depan menghadapi Korea Utara.
Latihan yang dikenal sebagai Ssangyong atau Twin Dragons itu biasanya mempertemukan ribuan Marinir AS dan Korea Selatan dalam operasi pendaratan dari laut, perebutan pantai hingga pergerakan pasukan ke daratan.
Reuters pada Senin, 24 Agustus 2026, melaporkan Korps Marinir Korea Selatan mengonfirmasi AS telah membatalkan latihan tersebut. Korps Marinir AS bahkan sudah memberi tahu Seoul sejak Juni bahwa ketersediaan pasukan Amerika akan terbatas karena kebutuhan operasi akibat perang Iran.
Dengan demikian, alasan langsung pembatalan Twin Dragons bukan keputusan diplomatik untuk menyenangkan Korea Utara. Washington menghadapi persoalan lebih mendasar: pasukan yang biasanya tersedia untuk operasi dan latihan di Asia kini dibutuhkan di Timur Tengah.
"Availability" atau ketersediaan pasukan AS untuk latihan tingkat divisi tersebut akan mengalami keterbatasan, demikian penjelasan juru bicara Korps Marinir Korea Selatan kepada Reuters. Seoul dan Washington masih membicarakan kemungkinan menggelar kembali latihan tersebut pada waktu lain. Belum ada mekanisme pengganti yang diumumkan untuk menutup hilangnya kesempatan latihan tahun ini.
Pembatalan tersebut menjadi signifikan karena Ssangyong bukan latihan seremonial. Dalam latihan 2024, misalnya, lebih dari 13 ribu personel terlibat bersama lebih dari 20 kapal perang, 30 pesawat dan 40 kendaraan serbu amfibi. Pesawat tempur siluman F-35B, helikopter, kapal serbu amfibi dan pasukan pendarat dikerahkan secara simultan.
Angkatan Laut AS dalam laporan pada Selasa, 3 September 2024, menjelaskan latihan itu mencakup operasi penetrasi dari laut dan udara, perebutan kepala pantai, operasi darat hingga latihan untuk menetralkan pasukan musuh. Tujuannya adalah meningkatkan kesiapan tempur dan kemampuan pasukan kedua negara beroperasi sebagai satu kekuatan.
Dengan kata lain, ketika latihan tersebut dibatalkan, yang hilang bukan hanya satu agenda militer dalam kalender tahunan. AS dan Korea Selatan kehilangan kesempatan melakukan simulasi salah satu operasi perang paling kompleks: menggerakkan ribuan prajurit, kapal, pesawat dan sistem komando dari dua negara dalam satu operasi gabungan.
Dari Perang Korea hingga Latihan Tahunan
Kerja sama militer AS-Korea Selatan berakar langsung pada Perang Korea 1950-1953. Setelah gencatan senjata pada 27 Juli 1953, Washington dan Seoul menandatangani Mutual Defense Treaty pada 1 Oktober 1953.
Perjanjian itulah yang menjadi fondasi kehadiran militer Amerika di Korea Selatan hingga sekarang. Departemen Luar Negeri AS mencatat sekitar 28.500 personel militer Amerika ditempatkan di Korea Selatan untuk membantu mencegah dan menghadapi ancaman Korea Utara.
Latihan militer gabungan kemudian berkembang selama era pascaperang. Kerangka latihan tahunan berskala besar yang dikenal hingga sekarang menguat pada 1976. Pada tahun itu, AS dan Korea Selatan memulai Team Spirit, latihan lapangan besar yang antara lain menguji kemampuan Washington mengirim pasukan tambahan dari luar Semenanjung Korea apabila perang pecah. Pada tahun yang sama, latihan mobilisasi pemerintah Korea Selatan Ulchi dipadukan dengan latihan komando AS menjadi Ulchi-Focus Lens.
.png)
3 hours ago
1
















































