REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta menyampaikan penyakit super flu yang belakangan ramai diberitakan tidak memiliki tingkat bahaya seperti COVID-19. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mencukupi waktu istirahat.
"Yang paling penting adalah makan makanan bergizi dan istirahat cukup. Karena ini penyakit menular, penularannya mudah terjadi pada orang-orang di sekitar, khususnya kelompok rentan dan komorbid," ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Lana Unwanah, Sabtu (10/1/2026).
Dokter Lana tak menepis super flu termasuk penyakit menular yang mudah menyebar, terutama kepada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil dan penderita penyakit penyerta atau komorbid. Menurutnya, penerapan PHBS masih sangat relevan untuk mencegah penularan super flu.
Penggunaan masker juga dianjurkan saat seseorang sedang sakit atau berada di kerumunan. "Kalau sakit, pakai masker. Saat berada di kerumunan juga sangat dianjurkan menggunakan masker karena itu membantu mencegah penularan," ujarnya.
Hingga kini hanya tercatat satu kasus super flu di Yogyakarta. Itu saja terjadi pada September 2025 lalu. Pasien tersebut telah dinyatakan sembuh total setelah menjalani perawatan di RSUP Sardjito, Sleman.
Lana menjelaskan isu tingkat kebahayaan super flu ini tidak menyerang saluran pernapasan bawah seperti COVID-19, melainkan hanya saluran pernapasan atas. Karena tidak menimbulkan kegawatan seperti pandemi COVID-19, pemeriksaan laboratorium dilakukan secara sampling melalui sistem sentinel di fasyankes tertentu untuk memantau penyakit mirip influenza. Pemeriksaan tidak dilakukan untuk semua pasien, karena super flu tidak menimbulkan risiko kematian cepat seperti COVID-19.
Adapun gejala yang dialami lebih berat dan durasi lebih panjang dibanding flu biasa, tetapi hanya menyerang saluran pernapasan atas mulai dari hidung, tenggorokan, hingga trakea, dan tidak masuk ke paru-paru atau bronkiolus seperti COVID-19. "Kalau COVID kemarin itu memang dia cepat sekali masuk ke dalam saluran paru-paru, kemudian masuk ke dalam kantong-kantong udara, seperti disebut alveolus. Sementara super flu ini hanya menyerang saluran pernapasan atas," ucapnya.
Ia juga menyampaikan penyakit super flu tergolong self-limiting disease atau penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya, tergantung pada kondisi daya tahan tubuh masing-masing individu. Namun, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika gejala tidak membaik dalam dua hingga tiga hari.
"Kalau 2–3 hari masih ada gejala, sebaiknya ke faskes untuk mendapatkan obat sesuai gejala, seperti obat flu, batuk, penurun panas, atau pereda nyeri," ucapnya.
Terkait tren peningkatan kasus flu sendiri, Lana menyebut terjadi pada pertengahan tahun, khususnya pada September hingga Oktober. Pada periode tersebut, kasus flu terlihat lebih berat dari biasanya dan berlangsung lebih lama. Selain itu, ditemukan pula beberapa klaster penularan di lingkungan sekolah.
"Kami menerima laporan adanya klaster di sekolah, artinya cukup banyak anak dalam satu kelompok mengalami gejala yang sama. Imbauannya melalui puskesmas, anak-anak yang sakit diminta segera istirahat agar tidak menularkan ke yang lain," kata Lana.
Meski sempat meningkat pada September–Oktober 2025 lalu, Lana menyebut tren kasus saat ini menunjukkan penurunan. Berdasarkan laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) dari fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Kota Yogyakarta, peningkatan yang tercatat lebih mengarah pada kasus ISPA atau infeksi saluran pernapasan akut secara umum.
Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, Lana mengingatkan masyarakat untuk memanfaatkan program cek kesehatan gratis (CKG) yang dicanangkan pemerintah, di mana setiap warga dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan minimal satu kali dalam setahun. Selain itu, Lana juga mengimbau masyarakat agar waspada dan menjaga pola hidup sehat, meningkatkan imunitas, dan jangan ragu untuk mengunjungi fasilitas kesehatan apabila gejala flu berat terus muncul.
"Dengan menjaga gaya hidup sehat dan rutin cek kesehatan, risiko penyakit menular maupun tidak menular bisa ditekan," ujarnya.
.png)
2 hours ago
1
















































