Perkembangan Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rebeca Cardoso Tenente Molina tidak pernah membayangkan kunjungannya ke rumah sakit karena dugaan batu empedu akan berakhir dengan kematian. Psikolog berusia 32 tahun asal Minas Gerais, Brasil, itu sempat dirawat selama beberapa hari sambil menunggu tempat tidur di ruang perawatan intensif (ICU) yang dinilai sangat dibutuhkannya.
Namun, tempat tidur itu tak kunjung datang. Keluarga Molina kini menuding sistem baru berbasis kecerdasan buatan (AI) yang digunakan pemerintah negara bagian telah ikut berperan dalam keterlambatan penanganan yang berujung pada kematiannya.
Menurut keluarga, kondisi Molina terus memburuk dari hari ke hari. Dokter yang menanganinya menilai ia membutuhkan perawatan intensif secepat mungkin. Akan tetapi, platform digital Core-MG yang digunakan untuk mengatur distribusi tempat tidur rumah sakit disebut tidak mengategorikan kasus Molina sebagai prioritas tertinggi.
Akibatnya, ia harus menunggu berhari-hari di tengah kondisi kesehatan yang terus menurun. Baru sekitar lima hari kemudian tersedia tempat tidur ICU di rumah sakit lain yang berjarak sekitar 300 kilometer dari lokasi perawatannya. Molina diterbangkan menggunakan pesawat pribadi menuju rumah sakit tersebut. Namun harapan itu datang terlambat. Beberapa jam setelah tiba, ia meninggal dunia.
Sertifikat kematiannya mencatat syok septik sebagai penyebab kematian. Hingga kini dokter masih berupaya memastikan penyebab pasti yang memicu kemunduran kesehatannya secara cepat.
Kasus ini memicu perdebatan luas di Brasil setelah saudara kembar Molina, Samela Cardoso Tenente Furtado, mengungkap bahwa sistem AI memberi skor tingkat keparahan 6,8 terhadap kondisi adiknya.
Menurut keluarga, angka tersebut jauh dari kondisi nyata yang dialami Molina. "Saudari saya bukan angka. Dia bukan sekadar data sistem AI," kata Furtado, sebagaimana diberitakan Russia Today pada Selasa (16/6/2026).
Ia mengaku khawatir keputusan yang sebelumnya berada di tangan dokter kini perlahan bergeser ke tangan algoritma yang bekerja berdasarkan perhitungan statistik.
"Para dokter kehilangan otonomi untuk memutuskan apakah seorang pasien sakit parah atau tidak," ujarnya.
Core-MG sendiri baru diluncurkan bulan lalu oleh pemerintah Minas Gerais. Sistem tersebut dikembangkan untuk mempercepat distribusi tempat tidur rumah sakit sekaligus membantu mengurutkan pasien berdasarkan tingkat urgensi medis mereka.
Pemerintah negara bagian membantah sistem tersebut menjadi penyebab kematian Molina. Otoritas kesehatan setempat menegaskan bahwa seluruh proses tetap berada di bawah pengawasan dokter dan penentuan pemindahan pasien bergantung pada kondisi klinis serta ketersediaan tempat tidur.
.png)
3 hours ago
1
















































