40 Tahun Tragedi Chernobyl: Luka yang Tak Pernah Sembuh dan Ancaman Nuklir Masa Kini

9 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan pentingnya penggunaan teknologi nuklir secara damai, bertepatan dengan peringatan 40 tahun bencana nuklir Chernobyl yang menjadi salah satu tragedi terburuk dalam sejarah.

Dalam pertemuan khusus, Presiden United Nations General Assembly (UNGA), Annalena Baerbock, menegaskan bahwa skala kehancuran Chernobyl menunjukkan bahwa teknologi nuklir memiliki risiko yang sangat besar, bahkan ketika digunakan untuk tujuan sipil.

Bencana tersebut terjadi pada 26 April 1986 ketika reaktor nomor 4 di pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl meledak, menyebarkan kontaminasi radioaktif ke wilayah luas, termasuk Ukraina, Belarus, dan sejumlah negara di Eropa.

Menurut Baerbock, lebih dari 8 juta orang terdampak paparan radiasi, dengan ribuan korban jiwa serta dampak kesehatan jangka panjang, termasuk meningkatnya kasus leukemia pada anak-anak.

“Peringatan ini harus menjadi pengingat bahwa teknologi nuklir harus digunakan secara ketat untuk tujuan damai, dengan pengawasan internasional yang kuat dan kepatuhan terhadap hukum global,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kerja sama internasional melalui International Atomic Energy Agency untuk memastikan keselamatan penggunaan energi nuklir di seluruh dunia.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal United Nations, Antonio Guterres, menyebut tragedi Chernobyl sebagai kecelakaan nuklir paling signifikan dalam sejarah modern.

Dalam pernyataannya yang disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal untuk Kebijakan, Guy Ryder, Guterres menilai tragedi tersebut juga memperlihatkan solidaritas global dalam menghadapi bencana.

“Chernobyl bukan hanya tragedi nasional, tetapi pelajaran bagi seluruh dunia bahwa dampak kecelakaan nuklir tidak mengenal batas negara,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kerja sama antarnegara, termasuk berbagi informasi dan pengalaman, menjadi kunci dalam membangun budaya keselamatan nuklir yang lebih kuat di masa depan.

Perwakilan Rusia di PBB, Dmitry Chumakov, juga menekankan pentingnya pembelajaran dari tragedi tersebut. Menurutnya, teknologi, sekalipun dikembangkan dengan niat baik, dapat menjadi ancaman jika tidak dikelola dengan kehati-hatian yang memadai.

sumber : Xinhua

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |