Serial Baru Netflix Dikritik karena Pakai Suara AI Mendiang Aktor Gene Wilder

5 hours ago 4

Aktor Gene Wilder dalam film Willy Wonka And The Chocolate Factory. Penggunaan suara hasil kecerdasan buatan (Al) yang mereplikasi mendiang Gene Wilder dalam serial realitas terbaru Netflix menuai kritik keras dari para penggemar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penggunaan suara hasil kecerdasan buatan (Al) yang mereplikasi milik mendiang Gene Wilder dalam serial realitas terbaru Netflix menuai kritik keras dari para penggemar. Banyak yang menilai langkah tersebut tidak etis dan dianggap merusak warisan sang aktor.

Serial bertajuk "Wonka's The Golden Ticket" dijadwalkan tayang di Netflix pada 23 September. Acara ini merupakan kompetisi realitas yang mempertemukan para peserta bersama pasangan pilihan mereka untuk memperebutkan berbagai hadiah di dalam replika lokasi ikonik Pabrik Cokelat dari novel Charlie And The Chocolate Factory karya Roald Dahl.

Trailer perdana serial tersebut baru saja dirilis dan dinarasikan menggunakan suara Al yang dibuat menyerupai Gene Wilder, pemeran Willy Wonka dalam film Willy Wonka And The Chocolate Factory (1971). Bagi banyak penggemar, Gene Wilder masih dianggap sebagai sosok yang paling ikonik dalam memerankan karakter Willy Wonka. Wilder meninggal dunia pada 2016, namun istri mendiang telah memberikan izin kepada pihak produksi untuk menggunakan suara Al dari suara sang aktor dalam serial tersebut.

Di tengah perdebatan mengenai etika penggunaan Al di industri hiburan, penggunaan suara Al mendiang Wilder pun tak lepas dari kontroversi. Banyak penggemar menilai keputusan ini tidak tepat dan termasuk pada kejahatan.

"Sangat menjijikkan. Dan saya tidak melihat itu sebagai pujian. Gene Wilder telah tiada dan begitu pula keajaibannya. Ini adalah kejahatan menggunakan kenangannya dengan sampah Al. Netflix telah mencapai titik terendah sepanjang masa," kata seorang warganet dikutip dari NME, Rabu (1/7/2026).

"Saya lebih suka Netflix membiarkan Gene Wilder beristirahat dengan tenang, daripada mengubahnya menjadi sampah Al," komentar warganet lainnya.

Penggemar lain mengecam Netflix karena memperlakukan suara aktor yang telah meninggal layaknya rekaman stok gratis. "Ini hanya menunjukkan betapa cepatnya mereka akan menghancurkan warisan apa pun demi keuntungan komersial daripada membuat sesuatu yang orisinal," kata dia.

Perdebatan mengenai penggunaan suara maupun rupa aktor melalui teknologi Al terus berlangsung. Sejumlah aktor memilih memberikan izin atas penggunaan identitas digital mereka untuk produksi baru.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |