Rupiah Menguat ke Rp 18.058 per Dolar AS Usai BI Naikkan BI Rate

6 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berada di level Rp 18.000-an per dolar AS, namun posisinya telah mengalami penguatan. Rebound rupiah terjadi usai Bank Indonesia (BI) secara mendadak menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen.

Mengutip Bloomberg, rupiah menguat 129,5 poin atau 0,71 persen ke posisi Rp 18.058 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (9/6/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level Rp 18.187 per dolar AS.

“(Faktor internal) BI menaikkan suku bunga acuan, BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen hari ini. Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).

BI telah menyampaikan perlunya menempuh langkah-langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain guna mendorong masuknya aliran investasi asing.

Diketahui, posisi cadangan devisa Indonesia mengalami penyusutan. BI mencatat pada Mei 2026 jumlah cadangan devisa mencapai 144,9 miliar dolar AS, menurun 1,3 miliar dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 146,2 miliar dolar AS. Penurunan ini didominasi oleh kewajiban pelunasan utang luar negeri (ULN) pemerintah, penerbitan surat utang obligasi global, serta transaksi perpajakan. Posisi cadangan devisa ini merupakan yang terendah sejak Juli 2024.

“Pemerintah saat ini terus memperkuat sinergi kebijakan ekonomi, baik dari sisi moneter maupun fiskal. Koordinasi antara BI dan Kementerian Keuangan menjadi bagian dari upaya menjaga perekonomian nasional tetap berada pada jalur yang diharapkan. Koordinasi tersebut telah dilakukan sejak akhir pekan lalu melalui pembahasan bersama BI sebagai otoritas moneter dan Kementerian Keuangan sebagai otoritas fiskal,” terang Ibrahim.

Ia menuturkan, pemerintah memberi sinyal tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp 18.200 per dolar AS dan dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Salah satu pertimbangan pemerintah menyiapkan stimulus adalah untuk menjaga daya beli masyarakat yang berpotensi tertekan akibat berbagai gejolak ekonomi. Selain stimulus ekonomi, pemerintah akan membahas perkembangan proyek Indonesia Financial Center (IFC) yang belakangan menjadi perhatian sebagai salah satu instrumen penguatan sektor keuangan nasional.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |