PEKANBARU, iNews.id - Bupati Siak, Afni Zulkifli mengeluarkan pernyataan mengejutkan terkait konflik lahan antara PT Seraya Sumber Lestari (SSL) dan sejumlah warga yang menduduki area perusahaan. Dalam video yang dia unggah di media sosial, Afni menyatakan akan mengusulkan pencabutan izin PT SSL.
"Barusan jumpa dengan pemilik saham PT SSL. Pertemuan yang awalnya untuk negosiasi damai kedua belah pihak (rakyat Siak dan PT.SSL), hanya mampu bertahan sekitar 10 menit namun akhirnya declok (kebuntuan). Kami saling membentak. Petinggi perusahaan PT SSL yang menemui saya sepertinya tak punya tata krama. Kita akan berjuang agar izin PT SSL dapat di addendum agar konflik tidak meluas di Tumang dan sekitarnya. Kita juga akan mengusulkan agar izin PT SSL dicabut," ujar Afni dalam videonya.

Baca Juga
Konflik Lahan PT SSL, Bupati Siak Mengaku Siap Diperiksa!
Pernyataan tersebut muncul usai pertemuan antara Pemkab Siak, PT SSL dan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) yang berujung tanpa kesepakatan. Ketua APHI Riau, Muller Tampubolon menjelaskan bahwa pertemuan itu bertujuan mencari solusi atas konflik lahan yang terjadi.
"Pertemuan tersebut adalah inisiatif kita agar permasalahan konflik di PT SSL ada titik terang. Memang pertemuannya non formal agar lebih terbuka dalam mencari solusi bersama," katanya.

Baca Juga
Polda Riau Wanti-wanti Bupati Siak soal Konflik Lahan PT SSL, Ada Cukong Bermain!
Muller mengatakan, pertemuan dihadiri oleh manajemen PT SSL, bukan pemilik saham. Dalam pertemuan itu, Bupati Siak sempat menawarkan lahan tambahan seluas 2.000 hektare dan meminta perusahaan menyetujui pendekatan Restorative Justice terhadap pelaku penyerangan dan pembakaran fasilitas PT SSL.
"Menjawab permintaan Bupati itu, PT SSL menyampaikan untuk menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Kemudian mempercayakan kepada pihak kepolisian," kata Muller.
Manajemen PT SSL juga menyampaikan bahwa penyerangan pada 11 Juni 2025 di Desa Tumang menyebabkan kerusakan besar dan trauma mendalam bagi karyawan, termasuk meninggalnya salah satu manajer karena tidak mendapat penanganan medis akibat klinik yang ikut dibakar.
"Benar pertemuan itu hanya sekitar 10 menit dan kedua belah pihak tidak ada kesepahaman. Sebab PT SSL menilai bahwa Bupati Siak tidak memberikan ruang dan kesempatan kepada manajemen PT SSL untuk menjelaskan apa yang terjadi dalam konflik di PT SSL beberapa waktu yang lalu," ucapnya.
Dia juga menyampaikan, adanya aksi saling bentak seperti yang disebutkan dalam video Bupati. "Pada pertemuan antara Bupati Siak dengan pihak manajemen PT SSL tidak ada aksi saling bentak di antara Bupati Siak dan PT SSL seperti yang disampaikan dalam video tersebut," katanya.
Konflik lahan ini memuncak saat ribuan warga menyerang kantor PT SSL, membakar fasilitas, dan menduduki lahan perusahaan yang kini dijadikan kebun sawit. Polisi telah menetapkan belasan tersangka, termasuk cukong yang memiliki ratusan hektare lahan di lokasi.
Editor: Kurnia Illahi