Operasional SPPG Penyalur MBG yang Diduga Picu Keracunan Ratusan Siswa di Grobogan Dibekukan

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, GROBOGAN -- Sekretaris Tim Satgas Percepatan MBG Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Hanung Triyono, mengungkapkan, kegiatan operasional SPPG Grobogan Gubug Kwaron 1 telah dibekukan sementara. Hal itu menyusul adanya kasus dugaan keracunan MBG yang dialami lebih dari 803 siswa di Kabupaten Grobogan. 

"SPPG yang terjadi KLB (kejadian luar biasa) telah diberhentikan operasional sementara sampai dengan batas waktu yang belum ditentukan," kata Hanung ketika dikonfirmasi soal kasus dugaan keracunan MBG di Grobogan, Selasa (13/1/2026).

Dia menambahkan, Badan Gizi Nasional (BGN) juga telah menerjunkan tim untuk menginspeksi kepatuhan SPPG Grobogan Gubug Kwaron 1. Selain itu, tim BGN turut menjenguk para siswa yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG. "Segala bentuk pengobatan pasien akan ditanggung oleh BGN," ujar Hanung. 

Sementara itu Sekretaris Daerah Provinsi Jateng, Sumarno, mengungkapkan, Dinas Kesehatan Jateng tengah memeriksa menu MBG yang diduga menjadi pemicu dugaan keracunan ratusan siswa di Grobogan. "Masalah higienis dan sebagainya, ini sedang diasesmen oleh teman-teman Dinas Kesehatan," ujarnya.

Dia menambahkan, terkait penindakan terhadap SPPG yang mengolah dan menyajikan MBG penyebab dugaan kasus keracunan, hal itu menjadi wewenang BGN. "Tadi pagi saya minta dari Dinas Kesehatan, ternyata dari BGN juga ada di Dinas Kesehatan sedang membahas masalah ini," ucap Sumarno. 

Sebanyak 803 siswa dari berbagai sekolah di Kabupaten Grobogan, Jawa Jateng, diduga mengalami keracunan MBG. Dari total terduga korban, 115 di antaranya harus menjalani perawatan medis. 

Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, Djatmiko, mengungkapkan, ratusan siswa di Grobogan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi MBG yang dibagikan pada Jumat (9/1/2026). Menu MBG terdiri dari nasi kuning, telur dadar, tempe orek, dan abon. MBG tersebut diolah dan disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Grobogan Gubug Kwaron 1. 

"Pas sore mulai terasa mual, muntah, dan berlanjut hingga Sabtu (10/1/2026)," ujar Djatmiko ketika dihubungi Republika, Selasa (13/1/2026). 

Dia menambahkan, para siswa yang mengalami gejala keracunan berasal dari setidaknya 11 sekolah, mulai dari tingkat TK, SD, SMP, dan SMK. Mereka tersebar di beberapa desa, seperti Desa Trisari, Ngroto, dan Penadaran. 

Sekolah yang siswanya terdampak antara lain SMP Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngroto, SMK Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngroto, SDN 1 Trisari, SDN 1 Penadaran, dan TK Ngroto. Menurut Djatmiko, siswa dengan gejala keracunan terbanyak berasal dari SMP dan SMK Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngroto. 

"Totalnya (siswa yang mengalami gejala keracunan) 803. Yang sudah diobati dan sembuh 688. Dari 803 dan 688 itu, ada 115 yang harus dirawat inap. Sudah dilakukan pengobatan, sudah sembuh 61, tinggal 54 (yang dirawat)," kata Djatmiko. 

Dia mengungkapkan, ke-54 siswa tersebut dirawat di rumah sakit dan beberapa puskesmas. Menurut Djatmiko, gejala mual, sakit perurt, dan buang air besar yang mereka alami sudah mulai mereda. "Semoga hari ini sudah bisa sembuh semuanya," ujarnya. 

Djatmiko mengatakan, pihaknya telah mengirimkan sampel MBG yang diduga menjadi penyebab gejala keracunan ke laboratorium milik Pemprov Jateng. Dia menyebut, proses uji lab memakan waktu antara tujuh hingga sepuluh hari.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |