Selain menjadi lokasi penting yang berkaitan dengan perjuangan Rasulullah SAW, Perang Uhud merupakan salah satu peristiwa yang menjadi pelajaran besar sejarah Islam.
Mutowif atau pemandu ibadah di Madinah, Ustadz Ibrohim Fadlannul Haq, menjelaskan bahwa kawasan Uhud memiliki sejumlah situs bersejarah yang berkaitan langsung dengan perjalanan dakwah Rasulullah SAW.
Saat berada di kawasan makam para syuhada, Ustadz Ibrohim menjelaskan bahwa lokasi tersebut merupakan tempat berlangsungnya Perang Uhud yang terjadi pada tahun ketiga Hijriyah.
"Sekarang kita berada di depan makamnya para Syuhada Uhud. Jadi lokasi ini adalah tempat terjadinya Perang Uhud," katanya kepada wartawan Media Center Haji 2026.
Menurutnya, Perang Uhud tidak dapat dipisahkan dari kemenangan kaum Muslimin pada Perang Badar yang terjadi setahun sebelumnya.
Saat itu, sekitar 300 pasukan Muslim berhasil mengalahkan sekitar 1.000 pasukan Quraisy.
"Sebab terjadinya Perang Uhud itu sendiri adalah karena sebelumnya terjadi Perang Badar. Perang pertama kali yang dialami oleh Rasulullah SAW. Dan kemenangan di tangan kaum Muslimin," ujarnya.
Kekalahan tersebut membuat kaum Quraisy tidak menerima keadaan. Mereka kemudian kembali ke Madinah pada bulan Syawal tahun ketiga Hijrah dengan membawa sekitar 3.000 pasukan untuk menghancurkan kekuatan kaum Muslimin.
Menghadapi ancaman itu, Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabat hingga diputuskan untuk menghadapi pasukan Quraisy di luar Kota Madinah.
Awalnya sekitar 1.000 pasukan Muslim berangkat menuju medan perang.
Namun, sekitar 300 orang dari golongan munafik memilih mundur karena tidak setuju dengan keputusan berperang di luar Madinah.
Akibatnya, pasukan Rasulullah SAW yang tersisa hanya sekitar 700 orang.
Dalam strategi perang, Rasulullah SAW menempatkan 50 pemanah terbaik di Bukit Pemanah atau Jabal Rumat.
Mereka diberi pesan agar tidak meninggalkan posisi apa pun yang terjadi selama peperangan berlangsung.
Pada awal pertempuran, pasukan Muslim berhasil mendominasi medan perang. Barisan Quraisy porak-poranda dan mulai meninggalkan lokasi pertempuran.
Melihat kondisi tersebut, sebagian pasukan pemanah mengira perang telah selesai. Mereka turun dari bukit untuk mengumpulkan harta rampasan perang
Padahal sebelumnya, Rasulullah SAW telah memerintahkan agar tetap bertahan di posisi hingga ada instruksi langsung.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Jenderal Khalid bin Walid yang saat itu masih berada di pihak Quraisy. Ia memimpin pasukannya memutari bukit yang telah kosong dan menyerang kaum Muslim dari arah belakang.
.png)
1 day ago
9












































