
Oleh: Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)
REPUBLIKA.CO.ID, Hari ini berbagai berita ekonomi datang hampir bersamaan. Harga BBM nonsubsidi kembali mengalami penyesuaian. Nilai tukar Rupiah masih berada dalam tekanan. Pasar modal pun menunjukkan pelemahan yang mencerminkan kehati-hatian pelaku usaha dan investor.
Bagi sebagian masyarakat, berita-berita tersebut mungkin hanya deretan angka yang lewat di layar ponsel. Namun bagi pengambil kebijakan, baik di pemerintahan maupun di dunia usaha, angka-angka itu adalah sinyal yang harus dibaca dengan cermat.
Setiap kebijakan besar sudah semestinya lahir dari proses yang panjang. Sebelum sebuah keputusan diambil, ada data yang dikumpulkan, tren yang dianalisis, risiko yang dihitung, dan berbagai kemungkinan yang disimulasikan.
Dalam konteks energi, misalnya, pemerintah harus memperhatikan pergerakan harga minyak dunia, kondisi fiskal negara, stabilitas nilai tukar, daya beli masyarakat, hingga dampaknya terhadap inflasi. Kebijakan yang baik tentu harus mampu membaca realitas secara lebih akurat dan bisa jadi bukan menjadi kebijakan yang populer.
Dalam dunia kecerdasan buatan, terdapat dua kesalahan klasik yang sering terjadi ketika sebuah model dibangun dengan membaca data yang kurang tepat, yaitu overfitting dan underfitting. Overfitting terjadi ketika suatu model terlalu terpaku pada pola masa lalu sehingga gagal beradaptasi dengan kondisi baru.
Sebaliknya, underfitting terjadi ketika model terlalu sederhana sehingga gagal menangkap pola penting yang sebenarnya sudah ada dalam data. Keduanya dapat menghasilkan prediksi yang keliru karena berangkat dari pemahaman data yang tidak tepat.
Para ilmuwan data berupaya menghindari kedua kesalahan tersebut dengan terus menguji model dari berbagai sudut pandang. Berdasarkan sumber data yang beragam, mereka berusaha memastikan bahwa model yang dibangun mampu menghadapi situasi baru yang belum pernah muncul sebelumnya. Tujuannya adalah dapat menghasilkan model yang cukup tangguh untuk menghadapi berbagai perubahan yang terjadi.
Prinsip yang sama tentu berlaku juga dalam pengambilan kebijakan publik. Kebijakan yang terlalu bergantung pada asumsi lama berisiko gagal memahami perubahan yang sedang terjadi.
Sebaliknya, kebijakan yang hanya bereaksi terhadap gejolak sesaat tanpa melihat tren jangka panjang juga berpotensi menghasilkan keputusan yang keliru. Karena itu, membaca data tidak cukup hanya melihat angka-angka yang muncul hari ini. Namun yang lebih penting adalah memahami pola, konteks, dan arah perubahan yang sedang berlangsung.
Pelajaran yang sama tentu juga sangat relevan bagi perguruan tinggi saat ini. Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, keputusan keluarga untuk memilih perguruan tinggi menjadi semakin selektif.
Biaya pendidikan, prospek karier, kualitas layanan, serta fleksibilitas pembiayaan menjadi faktor pertimbangan yang semakin penting. Perguruan tinggi yang gagal membaca perubahan perilaku masyarakat dapat kehilangan calon mahasiswa oleh karena kebijakannya tidak lagi selaras dengan realitas yang dihadapi calon mahasiswa dan keluarganya saat ini.
Di sinilah pengelolaan perguruan tinggi modern menjadi tidak lagi cukup hanya dengan mengandalkan intuisi semata. Data mengenai asal daerah calon mahasiswa, minat terhadap program studi tertentu, efektivitas promosi, tingkat keterjangkauan biaya pendidikan, hingga kebutuhan industri harus dianalisis secara sistematis. Semakin baik sebuah institusi membaca data, semakin baik pula kemampuannya dalam merespons perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Dunia selalu bergerak dinamis dan tidak selalu berjalan sesuai asumsi atau prediksi yang kita buat kemarin. Data berubah, konteks berubah, dan keputusan pun perlu menyesuaikan diri. Baik pemerintah, dunia usaha, maupun perguruan tinggi menghadapi tantangan yang sama, yaitu bagaimana membaca realitas dengan jujur, memahami data dengan cermat, dan mengambil keputusan dengan bijaksana.
Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11).
Perubahan tidak pernah lahir dari harapan semata, melainkan dari kemampuan memahami kenyataan yang sedang dihadapi. Dalam dunia yang semakin dipenuhi data, kemampuan membaca realitas menjadi sama pentingnya dengan kemampuan mengubahnya. Sebab keputusan yang baik bukanlah keputusan yang bertumpu pada asumsi, melainkan keputusan yang berpijak pada fakta. Data kini tidak lagi sekadar menjadi angka, tetapi menjadi sarana untuk menjalankan amanah dengan lebih bijaksana.
Wallāhu a'lam.
.png)
3 hours ago
2

















































