Mayoritas Muslim, Mengapa Bank Syariah Masih Menjadi Pilihan Kedua?

3 hours ago 6

Image Dede Hiliah

Ekonomi Syariah | 2026-06-23 15:20:56

Dilema masyarakat antara nilai syariah dan faktor praktis dalam memilih layanan perbankan

Indonesia sering disebut sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Dengan kondisi tersebut, banyak orang beranggapan bahwa perbankan syariah seharusnya berkembang lebih cepat dan mampu bersaing dengan perbankan konvensional. Namun, realitasnya masih berbeda. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa meskipun aset perbankan syariah terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, pangsa pasarnya masih relatif kecil dibandingkan keseluruhan industri perbankan nasional. Fakta ini menarik untuk dikaji, terutama karena Indonesia selama ini juga berambisi menjadi pusat ekonomi syariah dunia.

Menurut saya, persoalan utama bukan karena masyarakat Indonesia menolak konsep perbankan syariah. Justru saat ini kesadaran masyarakat terhadap produk keuangan syariah cenderung meningkat. Banyak orang sudah memahami bahwa bank syariah menawarkan sistem yang berbeda dari bank konvensional, terutama dalam menghindari praktik riba dan menerapkan prinsip bagi hasil. Akan tetapi, pemahaman tersebut belum otomatis membuat masyarakat beralih menjadi nasabah bank syariah.

Jika diperhatikan, keputusan seseorang dalam memilih bank sering kali lebih dipengaruhi oleh faktor praktis. Kemudahan transaksi, kualitas aplikasi mobile banking, ketersediaan ATM, hingga kecepatan layanan masih menjadi pertimbangan utama. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat cenderung memilih layanan yang paling memudahkan aktivitas mereka. Karena itu, meskipun nilai-nilai syariah dianggap penting, faktor kenyamanan dan efisiensi tetap memiliki pengaruh yang sangat besar.

Di sinilah saya melihat tantangan yang cukup serius bagi perbankan syariah. Selama ini, promosi yang dilakukan sering kali berfokus pada aspek "bebas riba" atau "sesuai syariat". Tentu saja hal tersebut penting sebagai identitas utama perbankan syariah. Namun, di tengah persaingan industri keuangan yang semakin ketat, pendekatan tersebut saja belum cukup. Masyarakat perlu melihat bahwa bank syariah bukan hanya berbeda secara akad, tetapi juga mampu memberikan kualitas layanan yang kompetitif.

Masalah lainnya adalah masih adanya anggapan bahwa produk perbankan syariah tidak jauh berbeda dengan produk perbankan konvensional. Terlepas dari benar atau tidaknya anggapan tersebut, persepsi ini menunjukkan bahwa edukasi kepada masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Jika masyarakat belum memahami nilai tambah yang ditawarkan, maka wajar apabila mereka memilih layanan yang sudah lebih dahulu familiar digunakan.

Di sisi lain, perkembangan teknologi sebenarnya membuka peluang yang cukup besar bagi perbankan syariah untuk memperluas jangkauan pasar. Saat ini, sebagian besar aktivitas keuangan sudah dilakukan secara digital. Generasi muda juga semakin terbiasa menggunakan layanan yang serba cepat dan praktis. Oleh karena itu, inovasi digital seharusnya menjadi salah satu fokus utama perbankan syariah. Kehadiran layanan yang modern dan mudah diakses dapat menjadi faktor penting untuk menarik minat nasabah baru, khususnya dari kalangan generasi muda.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, saya optimis bahwa prospek perbankan syariah di Indonesia masih sangat besar. Pertumbuhan aset yang terus meningkat menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap industri ini juga semakin baik. Namun, jika ingin meningkatkan pangsa pasar secara signifikan, perbankan syariah perlu bergerak lebih jauh dari sekadar mengandalkan identitas keagamaan. Inovasi produk, kualitas layanan, serta kemampuan menjawab kebutuhan masyarakat modern harus menjadi prioritas yang sama pentingnya.

Pada akhirnya, rendahnya pangsa pasar perbankan syariah bukan hanya persoalan literasi atau jumlah penduduk muslim. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana industri ini mampu membuktikan bahwa nilai-nilai syariah dapat hadir dalam layanan yang relevan, kompetitif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ketika hal tersebut berhasil diwujudkan, saya percaya perbankan syariah tidak lagi dipandang sebagai alternatif, melainkan sebagai pilihan utama dalam sistem keuangan nasional.

(Dede Hiliah; Program Studi Ekonomi Syariah; Fakultas Agama Islam; Universitas Pamulang)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |